Buyback Saham: Pengertian, Peraturan, Tujuan

  • Saham
stock buyback

Sebagai seorang investor cerdas, berbagai istilah dalam dunia pasar modal harus diketahui dengan baik. Salah satu yang cukup penting dimengerti adalah buyback saham. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharuskan emiten yang hendak mengambil aksi delisting di Bursa Efek Indonesia agar menyelesaikan buyback.

Tak setiap saham yang ada di market berharga. Adakalanya beberapa saham dinilai tak begitu profitable bagi kalangan investor. Kejadian itu dapat muncul disebabkan berbagai faktor. Namun apabila emiten bermaksud untuk tetap menjualnya maka sudah pasti risikonya adalah kerugian besar.

Demi merespon rumor itu maka emiten pun mengambil langkah membeli lagi saham yang sudah dijual di pasar. Langkah tersebut akan menurunkan kuantitas saham yang beredar sehingga memperkuat harga bisa kembali naik. Artinya pula, porsi kepemilikan yang dimiliki manajemen perusahaan pun akan meningkat.

Pengertian Buyback Saham

Buyback saham adalah aksi membeli kembali saham yang dikuasai public (outstanding share). Pembelian tersebut dilakukan oleh emiten yang mengeluarkan saham itu. Ketika mengadakan langkah buyback, emiten menggunakan dana yang dipunyai guna membayar saham perusahaannya sendiri dari investor.

Emiten melakukan langkah tersebut disebabkan nilai keuntungan yang mesti disetor perusahaan lewat pembayaran dividen akan menurun. Tindakan tersebut tidak lepas dari berkurangnya jumlah saham.

Di samping itu, perusahaan pun bisa mendapatkan laba di masa mendatang apabila memilih untuk menjual kembali saham yang di-buyback saat harganya naik.

Peraturan Buyback Saham

Peraturan mengenai aksi buyback saham tertera di Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 3/POJK.04/2021 mengenai penyelenggaraan kegiatan di bidang pasar modal. Ketentuan baru tersebut adalah pengganti PP No. 45 Tahun 1995.

Tujuan dari keluarnya aturan itu utamanya adalah memberikan proteksi kepada para investor ritel sekaligus menumbuhkan kepercayaan masyarakat. Jika sebelum adanya aturan itu emiten yang mengadakan delisting ternyata cukup merugikan investor ritel sebab saham yang dibelinya tidak lagi berharga. Investor yang memegang saham emiten delisting pun akan susah menjualnya kembali.

Mekanisme Buyback Saham

Ada dua mekanisme bila suatu emiten ingin menjalankan aksi buyback yaitu tender offer dan kedua adalah membeli di pasar terbuka. Penjelasannya masing-masing adalah sebagai berikut :

Tender Offer

Yaitu menawarkan ke para pemegang saham jika emiten berniat membeli saham dalam jumlah tertentu dimana rentang harganya sudah ditetapkan perusahaan yang biasanya di atas harga pasar. Untuk para pemegang saham yang bermaksud mengikuti tawaran tersebut bisa mendaftarkan diri termasuk berapa lot yang hendak dijual serta harga yang dikehendaki.

Ketika tender offer dilakukan maka emiten langsung melakukan pembelian kembali. Apabila kuantitas saham yang dijual publik melebihi kebutuhan maka emiten akan memprioritaskan membeli saham dengan harga lebih murah.

Membeli di Pasar Terbuka

Menurut Corporate Finance Institute, melakukan pembelian di pasar terbuka adalah salah satu metode buyback yang dilakukan emiten. Aksi membeli saham dari pasar reguler mengikuti dengan harga pasar. Isu akan berlangsungnya aksi buyback biasanya mengakibatkan harga saham itu naik sebab ada sentimen peningkatan permintaan.

Tujuan Perusahaan Melakukan Buyback Saham

Perusahaan yang menjalankan aksi buyback umumnya bertujuan menurunkan nilai dividen yang diberikan ke pemegang saham. Disamping itu, emiten pun menghendaki investasi yang lebih sesuai dari perusahaannya sendiri. Oleh karena itu emiten memilih untuk membeli kembali sahamnya sendiri yang beredar di masyarakat.

Ada pula motif yang lain, semisal harga saham yang kelewat murah. Kenyataan itu menyebabkan perusahaan memakai uang tunai yang ada guna membeli kembali saham mereka.

Pengaruh buyback terhadap harga saham adalah teredamnya kepanikan pasar karena perusahaan menunjukkan kepercayaan diri dengan melakukan pembelian kembali saham. Lazimnya pihak manajemen perusahaan mencermati harga saham di pasar sudah kelewat murah sehingga diputuskan membeli lagi hak milik dari masyarakat. Karenanya, buyback bisa menjadi variabel yang mempengaruhi harga saham.

Kuantitas saham beredar yang menyusut maka dengan sendirinya nilai EPS atau Earning per Share (laba tiap lembar saham) emiten pun naik. Nah, strategi buyback yang dilakukan emiten dimaksudkan untuk meningkatkan angka rasio keuangan perusahaan.

Rasio keuangan merupakan salah satu aspek utama ketika menganalisis fundamental sebuah perusahaan. Apabila langkah tersebut adalah sebab dilaksanakannya buyback untuk itu pemegang saham mesti cermat.

Langkah tersebut tak bakal menambah benefit untuk pemegang saham, namun menjadikan angka rasio keuangan nampak lebih baik. Bila itu yang ada maka boleh jadi ada yang keliru dengan pengelolaan manajemen perusahaan. Membatasi jumlah saham yang beredar bisa berpengaruh baik ke beberapa rasio yang dipantau market.

Berikut adalah beberapa rasio penting sebagai prioritas emiten :

  • Return on asset (ROA): rasio ini ditentukan dengan membagi jumlah laba bersih dengan total aset. Menurunkan modal saham secara langsung akan mengurangi jumlah aset perusahaan dimana langkah tersebut akan berpengaruh positif ke angka ROA.
  • Return on equity (ROE): ditetapkan sebagai total laba bersih yang dikembalikan dalam persentase ekuitas pemegang saham. Sehingga, kalau pendapatan emiten selalu stabil maka dengan menurunkan jumlah ekuitas bisa meningkatkan angka ROE.
  • Earnings Per Share (EPS): ditentukan menggunakan formula (laba bersih – dividen saham preferen) : rata-rata saham beredar. Bilamana emiten menjalankan aksi buyback maka secara langsung akan menurunkan total saham yang beredar sehingga menaikkan angka EPS.

Dampak buyback saham lainnya adalah untuk menurunkan likuiditas saham emiten di pasar. Jika saham yang beredar di pasar terlampau banyak otomatis harga saham terebut tentu lebih susah naiknya. Bila pun naik maka kenaikannya pun lambat. Karenanya pihak emiten adakalanya mengambil langkah buyback demi menurunkan supply saham yang beredar agar ratio keungan jadi lebih baik lalu harga pun lebih gampang meningkat.

Kerugian Buyback Saham

Perlu diketahui bahwa langkah buyback saham yang ditempuh perusahaan sama sekali tak murah. Efek buyback saham berupa biaya yang dikeluarkan berdampak pada laba perusahaan untuk short term.

Investor yang berorientasi pada dividen maupun laba per saham (EPS) dalam jangka pendek mesti paham hal tersebut. Program buyback saham cuma menarik teruntuk investor long term lebih dari satu tahun.

Efek negatif lain dari buyback saham yaitu emiten menghabiskan dana untuk satu hal yaitu membeli sahamnya sendiri. Dana itu tak bisa menggunakan dana tersebut untuk dividen atau proyek yang menghasilkan laba. Perubahan industri maupun perkembangan baru yang memberikan peluang pada perusahaan, tak bisa direspon perusahaan.

Keuntungan di jangka panjang boleh jadi hilang sebab kesulitan untuk berinvestasi dalam berbagai proyek baru yang diakibatkan tak adanya dana. Perusahaan pun stuck pada sedikit modal yang dimilikinya saja. Hal itu sangat merugikan sebab kesempatan untuk mengembangkan perusahaan hilang hanya karena tak tersedia modal untuk melaksanakannya. Selain itu, menurut Harvard Business Review, efeknya bisa berbahaya untuk ekonomi.

Sesuai penjelasan tadi maka investor mesti berhati-hati dan mengerti betul alasan emiten menempuh langkah buyback saham. Hal tersebut berhubungan erat dengan performa emiten di masa mendatang. Selamat berinvestasi!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *