Return on Equity (ROE) Dalam Saham

  • Saham
Memahami Return on Equity

Saham adalah pilihan instrumen investasi yang cukup populer bagi sebagian masyarakat Indonesia. Saham mampu memberikan return yang tinggi, tentu bila dipilih dengan benar. Nah, salah satu pertimbangan memilih saham adalah nilai Return on Equity (ROE).

Pengertian Return on Equity (ROE)

Return On Equity (ROE) adalah pengembalian ekuitas dari suatu perusahaan. Menjadi pilihan metode untuk menghitung rasio profitabilitas yang dihasilkan perusahaan. Jadi ROE adalah rasio atau perbandingan yang mampu memberikan gambaran kinerja perusahaan untuk mencetak laba bersih memanfaatkan modal milik sendiri yang dapat dibagikan kepada investor.

ROE, sebuah istilah dalam analisa fundamental saham, acapkali digunakan sebagai acuan investasi saham bagi para pemodal. Nilai ROE bisa dimanfaatkan untuk acuan mengetahui kinerja keuangan perusahaan. Nilai ROE ditentukan oleh kapasitas perusahaan. Perusahaan kecil pastinya punya modal kecil, dengan begitu nilai ROE juga kecil. ROE juga merupakan nilai imbal hasil dari laba bersih terhadap ekuitas. Nilai ROE ini berupa persentase. ROE biasanya digunakan dalam menganalisis kinerja perusahaan untuk mencetak keuntungan menggunakan ekuitas yang ditempatkan investor.

ROE membuktikan kemampuan emiten mencetak laba dari investasi sesuai nilai buku pemegang saham. Makin besar ROE artinya nilai perusahaan pun meningkat. Jadi bila emiten memiliki nilai ROE tinggi maka layak sahamnya untuk dikoleksi. Ada dua hal yang dapat mempengaruhi nilai Return on Equity sebuah perusahaan, ialah net income atau laba bersih dan equity atau ekuitas.

– Net Income : adalah pendapatan bersih atau laba bersih. Data ini acapkali dijadikan untuk parameter kinerja perusahaan dan juga menjadi dasar untuk menghitung indikator lain misalnya ROE atau juga EPS.

– Equity : adalah total modal yang merepresentasikan kepemilikan seseorang atas asset perusahaan. Di laporan keuangan perusahaan biasanya nilai equity ini tercantum dalam Laporan Nerasa Keuangan. Ada beberapa jenis equity yang dimiliki perusahaan meliputi modal disetor, laba ditahan, dividen, serta saham.

Cara Menghitung Return on Equity

Formula yang digunakan untuk menghitung ROE = laba bersih sesudah pajak : ekuitas dikalikan 100 %. Misalnya : di tahun 2020 kemarin, equity rata-rata pemegang saham perusahaan PT. Berdikari Lautan senilai Rp.625.000.000. Perusahaan pun mencetak untung setelah senilai Rp1.000.000.000. Sehingga nilai ROE perusahaan itu adalah : Rp1.000.000.000 : Rp625.000.000 x 100 % = 160 %. Bila nilai ROE mendekati 100% maka membuktikan jika perusahaan makin efektif dan efisien dalam pemanfaatan equity yang bisa mencetak laba. Namun bila nilai ROE kecil 0 artinya perusahaan tak berhasil menjalankan modal yang ada untuk membuat laba.

Penerapan Nilai ROE

Dalam melakukan analisis fundamental saham, investor perlu untuk mengetahui angka ROE dari saham yang diincar. Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam mengaplikasikan data nilai ROE dari sebuah saham diantaranya :

  • Investor harus melakukan perbandingan angka ROE dari emiten itu untuk 5 sampai 10 tahun terakhir. Itu berguna untuk menginformasikan kinerja perusahaan dengan jelas. Kendati nilai ROE yang terus naik untuk waktu 5 sampai 10 tahun namun tentu tak bisa dipastikan jika perusahaan bisa selalu membukukan pertumbuhan positif. Hanya saja setidaknya berdasarkan data itu investor dapat melihat rata-rata laba yang dihasilkan perusahaan.
  • Investor pun harus membuat perbandingan nilai ROE perusahaan lain di sektor sejenis. Boleh jadi, nilai ROE kecil sebab sektor yang diterjuni itu memang memberikan margin keuntungan yang kecil. Sektor perumahan yang mempunyai tingkat pertumbuhan tinggi biasanya juga menghasilkan nilai ROE tinggi sebab dapat memberikan pemasukan ekstra tanpa harus dibiayai unsur dari luar.
  • Nilai ROE untuk perusahaan cukup penting sebagai salah satu langkah membuat investor tertarik dan juga pertanggungan jawab kepada para pemegang saham. Biasanya emiten secara berkala akan merilis informasi ROE ini kepada publik. Nilai ROE menggambarkan dan mengukur kemampuan perusahaan memanfaatkan tiap rupiah yang diperoleh. Bagi mereka yang ingin membeli saham, indikator ROE ini cukup penting untuk diperhatikan sebagai salah satu pertimbangan. Misalnya jika ada emiten dengan ROE 7%. Pastinya nilai ROE 7% tersebut tak begitu menarik minat investor sebab instrumen investasi lain seperti deposito pun menawarkan return bunga sebesar itu. Kalangan investor berkeyakinan, menanamkan dana di investasi beresiko tinggi seperti saham jika pengembalian yang didapatkan tidak lebih tinggi dari instrumen investasi lain yang resikonya lebih rendah seperti Deposito, dan Obligasi maka akan sia-sia.
  • Ada korelasi teratur dari kinerja perusahaan yang bagus yang ditunjukkan dengan nilai ROE tinggi dan peningkatan harga saham untuk jangka panjang. Hanya saja nilai ROE yang kelewat tinggi bisa membuat saham tersebut diapresiasi terlampau tinggi oleh pasar. Akibatnya kesempatan untuk naik lagi pun akan lebih sulit. Misalnya saja saham Unilever dengan kode UNVR. Perusahaan tersebut terus membukukan nilai ROE tertinggi hingga bertahun-tahun. Begitu biknya kinerja perusahaan maka pasar pun bereaksi dengan menilai saham itu begitu mahal, dimana rata-rata nilai PER mencapai 39,1 dengan nilai PBV mencapai 45,6 dalam 10 tahun terus-menerus. Penilaian harga saham atau valuasi bila telah kelewat mahal, tentu makin sulit untuk meningkat lagi. Terlihat dari rata-rata kenaikan harga saham UNVR hanya 19,3% dalam kurun waktu tersebut. Tertinggal dibanding sejumlah saham lain dengan kenaikan yang lebih tinggi meskipun memiliki nilai ROE lebih rendah. Sehingga, dibutuhkan juga sebuah analisis valuasi harga saham. Tujuannya adalah memastikan jika harga saham itu memang cukup murah yang artinya dapat menghasilkan kemungkinan peningkatan yang tinggi. Pedoman bagi para investor pemula, ambil saham-saham yang mempunyai nilai ROE tinggi, namun hindari saham pertambangan (misalnya : IMTR atas PGAS). Bukan hanya itu, saham-saham yang dipilih pun harus memiliki nilai PER dan PBV lebih dari 30. Biasanya untuk jangka panjang saham-saham tersebut bisa menghasilkan return yang memuaskan.

Daftar Saham dengan ROE Tinggi

Berikut contoh nilai rata-rata ROE beberapa saham yang dikategorikan sebagai saham index LQ45 (data diambil November 2019) :

  • Unilever Indonesia (UNVR) 112,9%
  • Matahari Department Store (LPPF) 97,1%
  • HM Sampoerna (HMSP) 55,5%
  • Surya Citra Media (SCMA) 38,3%
  • Bukit Asam (PTBA) 31,7%
  • Indo Tambang Raya Megah (ITMG) 29,5%
  • Charoen Pokphan Indonesa (CPIN) 27,9%
  • Telekomunikasi Indonesia (TLKM) 27,1%
  • Bank Tabungan Nasional Pensiunan (BTPS) 26,9%
  • Perusahaan Gas Negara (PGAS) 26,4%
  • Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 24,7%
  • Astra Internasional (ASII) 23,5%
  • Indofood CBP Sukes Makmur (ICBP) 23%
  • Semen Indonesia (SMGR) 22,6%
  • Kalbe Farma (KLBF) 21,8%
  • Bank Central Asia (BBCA) 21,8%
  • AKR Corporindo (AKRA) 20,7%
  • Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) 20,6%
  • Pakuwon Jati (PWON) 20,1%
  • Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) 18,8%
  • United Tractors (UNTR) 18,8%
  • Waskita Karya (WSKT) 18,7%
  • PT PP (PTPP) 18,7%
  • Sri Rejeki Isman (SRIL) 17,5%
  • Bank Mandiri (BMRI) 17,4%
  • Gudang Garam (GGRM) 17%
  • Indofood Sukses Makmur (INDF) 16,4%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *