Lompat ke konten

Daftar Saham Second Liner Terbaik (2022)

Daftar Saham Second Liner Terbaik

Saham second liner adalah saham perusahaan-perusahaan yang memiliki nilai kapitalisasi pasar lebih rendah dibandingkan dengan kapitalisasi pasar perusahaan blue chip. Namun demikian, hal ini bukan berarti saham second liner kalah bagus dengan saham blue chip.

Nilai kapitalisasi pasar sendiri ditentukan dengan mengalikan harga saham dengan jumlah saham yang beredar. Ini artinya, saham sebuah perusahaan bisa dikatakan second liner apabila perusahaan tersebut hanya menjualnya dalam jumlah sedikit. Lebih dari itu, saham second liner bisa masuk jajaran blue chip apabila harganya naik dan mengalahkan harga saham blue chip sebelumnya. 

Saat ini, saham second liner di Indonesia dapat ditemukan pada saham-saham yang masuk ke dalam indeks IDX SMC Liquid. IDX SMC Liquid adalah indeks khusus untuk perusahaan dengan kapitalisasi pasar kecil hingga menengah namun memiliki tingkat likuiditas yang bagus. Daftar konstituen indeks ini akan terus diperbaharui setiap bulan Januari, April, Juli dan Oktober untuk mengantisipasi perubahan nilai kapitalisasi pasar setiap perusahaan.

Berikut ini daftar saham second liner terbaik di tahun 2022:

1. Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR)

Semen Indonesia (Persero) Tbk atau yang lebih dikenal sebagai Semen Gresik adalah produsen semen terbesar di Indonesia. Perusahaan BUMN ini didirikan pada tahun 1957 oleh Bung Karno dan mulai listing di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (BEI sebelum digabung) pada tahun 1991. 

Selain semen, kini SMGR juga mengembangkan berbagai produk yang bisa digunakan dalam pembangunan rumah, perkantoran, hingga infrastruktur jalan dan bandara. Selain itu, perusahaan ini juga memiliki fasilitas layanan konsultasi pembangunan terintegrasi. SMGR termasuk dalam saham indeks LQ45.

2. Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS)

Perusahaan BUMN lain yang bisa dikategorikan ke dalam saham second liner adalah Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). PGN adalah anak usaha PT. Pertamina yang bergerak di bidang transmisi dan distribusi gas bumi. Perusahaan ini sebenarnya sudah ada sejak zaman kolonial Hindia Belanda. Didirikan pada tahun 1859, perusahaan ini lantas diakuisisi oleh pemerintah Indonesia pasca kemerdekaan. 150 tahun lebih setelah pendiriannya, PGN lantas mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Surabaya pada tahun 2003. 

Sebagai saham sektor energi, PGAS memiliki kegiatan usaha yang terintegrasi dari hulu ke hilir mulai dari proses transmisi hingga distribusi dan perdagangan. Sejauh ini, mayoritas line up bisnis PGN terpusat di Jawa dan Sumatera, serta Tarakan dan Sorong. 

3. Bukit Asam Tbk (PTBA)

Rekomendasi saham second liner ketiga yang juga merupakan saham BUMN adalah Bukit Asam Tbk (PTBA). Perusahaan ini bergerak di bidang pertambangan batu bara khususnya di daerah Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Sama seperti PGN, PTBA sebelumnya juga merupakan perusahaan Belanda yang diakuisisi oleh pemerintah Indonesia pasca kemerdekaan. 

Saat ini PTBA berencana untuk memperluas bisnisnya hingga sektor hilir batubara dengan mengembangkan bisnis pembangkit listrik, gasifikasi, pencairan batubara (coal liquefaction), coal bed methane (CBM), biodiesel. 

4.  Aneka Tambang Tbk (ANTM)

Tentu masyarakat Indonesia sudah cukup akrab dengan perusahaan yang satu ini, atau paling tidak dengan produk emas yang mereka hasilkan. Memang, sejauh ini Antam adalah salah satu market leader di bidang pertambangan dan perdagangan emas. 

Namun selain logam mulia tersebut, Antam juga memiliki lini pertambangan pada mineral lain, yaitu bauksit, nikel dan batubara di Jambi. Bahkan, perusahaan ini juga mengembangkan bisnis eksplorasi dengan tujuan menemukan sumber daya mineral yang baru. 

PT Aneka Tambang Tbk didirikan pada 5 Juli 1968 sebagai salah satu upaya pemerintah Indonesia untuk menguasai tambang emas di Cikotok, Lebak, Banten yang sebelumnya dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda. Kini, pangsa pasar emas Antam tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di luar negeri. Hal ini dibuktikan dengan bahwa emas hasil produksi perusahaan ini mendapatkan sertifikasi London Bullion Market Association (LBMA).

5. Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)

Perusahaan tambang memang salah satu sektor yang sedang bullish dalam satu tahun ini. Pasalnya, kenaikan harga komoditas dunia mendorong perusahaan jenis ini untuk mendapatkan nilai penjualan yang lebih banyak dengan biaya produksi yang relatif konstan. 

Indo Tambangraya Megah Tbk atau ITMG adalah perusahaan investasi pertambangan batubara dan berbagai sektor lainnya. Perusahaan ini didirikan pada 2 September 1987 dan mulai melantai di bursa pada tahun 2007. 

Saat ini ITMG memiliki 7 lahan tambang yang terpusat di Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. 7 lahan tambang tersebut dilengkapi dengan fasilitas distribusi yang memadai, termasuk terminal batubara Bontang. Hingga paruh kedua tahun 2022, ITMG berhasil memproduksi 7,7 juta ton batubara dan targetnya tahun ini memproduksi minimal 17,5 juta ton bahan bakar fosil tersebut. 

6. Bukalapak.com Tbk (BUKA)

Emiten saham second liner selanjutnya datang dari salah satu perusahaan marketplace terbesar di Indonesia, Bukalapak. Perusahaan yang didirikan pada tahun 2010 oleh 3 mahasiswa ITB ini merupakan perusahaan “startup” pertama yang melakukan IPO dengan menjual sahamnya di bursa pada  6 Agustus 2021. Produknya yang terkenal menjadikan BUKA sebagai salah satu saham teknologi terbaik di Indonesia.

Di luar online marketplace, kini BUKA juga memiliki bisnis di bidang lain, seperti quick commerce dengan Allo Fresh, Financial Service di Allo Bank, penjualan berbagai item game di itemKu dan berbagai bisnis lain yang mendukung usaha mitra Bukalapak. 

7. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP)

Indocement Tunggal Prakarsa Tbk adalah produsen semen terbesar kedua di Indonesia. Sempat dimiliki oleh Salim Group, perusahaan ini didirikan pada tahun 1975 dengan nama PT Distinct Indonesia Cement Enterprise (DICE). Sempat berubah nama beberapa kali, akhirnya DICE beserta perusahaan semen dalam lingkup Salim Group lainnya bergabung menjadi PT Indocement Tunggal Prakarsa pada tahun 1985. 

Hingga tahun 2022, perusahaan ini mengelola 13 pabrik dengan kapasitas produksi 25,5 juta ton yang terletak di Citeureup (Bogor), Cirebon dan Tarjun, Kotabaru, Kalimantan Selatan. Selain semen, INTP juga memproduksi beton siap pakai dan berbagai bahan tambang. Namun, hingga kini semen memang sumber utama penjualan perusahaan ini. 

8. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP)

Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) adalah anggota Sinarmas Group yang bergerak di bidang pengolahan bubur kayu. Bubur kayu ini diolah menjadi berbagai komoditas, seperti kertas, kardus, packaging produk hingga triplek dan tisu. Saat ini INKP memiliki 3 pabrik yang tersebar di Perawang, Riau, Serang dan Tangerang, Banten. 

Pada tahun 2019, perusahaan ini berhasil menghasilkan 2019 was 3 juta ton bubur kayu (pulp), 1,7 juta ton kertas, 108.000 ton tisu and 2,1 ton kardus packaging. Sekitar 52% dari hasil tersebut diekspor ke berbagai negara di Asia, sementara 42% sisanya untuk konsumsi dalam negeri. 

9. Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA)

Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) adalah salah satu saham kesehatan di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan ini menaungi grup rumah sakit Mitra Keluarga dan grup rumah sakit  Rumah Kasih Indonesia. 

Didirikan pada tahun 1989 di Jakarta, MIKA kini mengelola 26 rumah sakit, yang terdiri dari 17 rumah sakit di bawah Mitra Keluarga dan 9 rumah sakit di bawah Kasih Group. Diperkirakan 17 rumah sakit ini dapat menampung lebih dari 202 ribu pasien rawat inap 2,3 juta pasien rawat jalan dengan mempekerjakan 1.782 dokter, lebih dari 7.600 karyawan medis dan non medis. 

10. Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN)

Bank Pan Indonesia (PNBN) atau yang lebih dikenal dengan Bank Panin adalah salah satu institusi penyedia layanan keuangan terbesar di Indonesia. Bahkan seringkali perusahaan ini menjadi salah satu bank dengan nilai aset terbesar di negeri ini.

Bank Panin didirikan pada tahun 1971 sebagai gabungan dari Bank Kemakmuran, Bank Industri Djaja Indonesia, dan Bank Industri dan Dagang Indonesia. Lebih dari 50 tahun setelah didirikan, perusahaan ini memiliki 1 kantor wilayah (KW), 57 kantor cabang (KC), dan 455 kantor cabang pembantu (KCP) di seluruh Indonesia dan 1 kantor perwakilan di Singapura.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.