Lompat ke konten

Dilusi Saham: Pengertian, Penyebab, Dampak

Apa Itu Dilusi Saham

Jumlah saham beredar sebuah perusahaan tidak selalu konstan, karena adanya aktivitas penerbitan saham baru. Hal tersebut bisa mengakibatkan dilusi karena proporsi kepemilikan seorang investor bisa berkurang.

Investor harus memperhatikan dilusi saham karena dapat berpengaruh pada keuntungan investasi.

Pengertian Dilusi Saham

Dilusi saham adalah penurunan proporsi kepemilikan seorang investor terhadap total saham perusahaan tertentu yang disebabkan oleh kebijakan perusahaan yang mengakibatkan jumlah surat berharga tersebut naik di pasaran.

Fenomena ini sering terjadi di berbagai perusahaan di Indonesia. Namun demikian, kebijakan yang mengakibatkan hal ini sering dipandang menjadi kebijakan yang negatif karena bisa mengurangi kekuatan seorang investor untuk mempengaruhi kebijakan perusahaan. 

Penyebab Dilusi Saham

Berikut ini beberapa faktor munculnya dilusi saham:

1. Right issue

Kebijakan yang pertama adalah perusahaan menerbitkan saham baru. Right issue ini banyak dilakukan oleh perusahaan yang membutuhkan dana segar untuk mengembangkan bisnisnya. 

Hal ini berakibat jumlah saham yang beredar di bursa semakin banyak, sehingga apabila investor lama perusahaan tersebut tidak membeli saham baru tersebut, maka persentase kepemilikannya akan otomatis berkurang. 

Apabila jumlah pendapatan sebuah perusahaan tidak berubah setelah adanya right issue, maka jumlah keuntungan per lembar (EPS) investor lama juga akan terancam turun. Oleh karena itu di Indonesia, jika sebuah perusahaan ingin menerbitkan saham baru, perusahaan tersebut harus memprioritaskan investor lama terlebih dahulu, sebelum akhirnya merilisnya ke investor baru. 

2. Stock convertible program

Selain dari right issue, dilusi saham juga bisa terjadi apabila sebuah perusahaan merilis program seperti employee stock ownership program atau memberikan opsi convertible asset kepada pihak ketiga.

Employee stock ownership program (ESOP) adalah program pemberian opsi saham kepada karyawan atau manajemen sebuah perusahaan yang telah memenuhi syarat tertentu misal, telah memenuhi target bulanan (KPI), mencapai posisi tertentu dan lain sebagainya. Saham dari program ESOP ini bisa berasal dari penerbitan baru atau pembelian kembali (buyback) saham perusahaan yang beredar. 

Adapun convertible asset adalah aset non-saham tapi bisa diganti dalam bentuk saham apabila aset tersebut sudah mencapai batas waktu tertentu. Biasanya, convertible asset ini dalam bentuk obligasi yang apabila dalam jangka waktu tertentu utang perusahaan belum lunas, obligasi tersebut bisa berubah menjadi saham. 

3. Penawaran saham terbatas

Faktor munculnya dilusi saham yang lain adalah penawaran surat berharga tersebut kepada pihak-pihak tertentu secara terbatas. Dalam hal ini biasanya perusahaan menawarkan sebagian surat kepemilikan modalnya kepada perusahaan yang diakuisisi, sehingga proses akuisisi menjadi lebih mudah. 

Contoh Dilusi Saham 

Contoh 1

Misalnya, perusahaan A didirikan oleh 4 orang yaitu Alma, Bela, Celia dan Dina dengan total modal pendirian sebesar Rp. 1.000.000.000. Karena keempat orang tersebut menyumbang dana dalam jumlah yang sama, maka total kepemilikan setiap orang sama-sama 25%. 

Lalu pada dua tahun pendiriannya, perusahaan A lantas menerbitkan saham lagi sebanyak 1.000.000 lembar dengan harga Rp. 1.000 per lembar sehingga totalnya 1.000.000.000. Dina lantas membeli tambahan saham seharga Rp. 250.000.000 sementara ketiga kawannya tidak menambah kepemilikan sama sekali. 

Dengan demikian, total pembagian kepemilikan saham perusahaan A pada tahun kedua adalah sebagai berikut:

Total saham yang beredar di pasaran : Rp. 1.000.000.000 + Rp. 1.000.000.000 = Rp. 2.000.000.000

Jumlah saham yang dimiliki oleh pendiri:

Alma : Rp. 250.000.000/ 2.000.000.000 = 12,5%

Bela : Rp. 250.000.000/ 2.000.000.000 = 12,5%

Celia : Rp. 250.000.000/ 2.000.000.000  = 12,5%

Dina : (Rp. 250.000.000 + Rp. 250.000.000)/ 2.000.000.000 = 25%.

Publik : 100% – (12,5+12,5+12,5+25)% =37,5%

Contoh 2

Pada tahun 2021 lalu, Bank Rakyat Indonesia (BRI) telah melakukan right issue dengan merilis saham tambahan sebanyak 28,2 miliar lembar. Dari jumlah tersebut, BRI berhasil mengumpulkan dana segar sebesar 95,9 triliun rupiah (Bisnis) dengan rincian sebagai berikut:

  1. 54,7 triliun dari Pemerintah Indonesia.
  2. 41,2 triliun dari publik dimana 27,9 triliun diantaranya merupakan dana dari investor asing. 

Dari right issue ini, jumlah diluted earning per share masing-masing investor BRI pada tahun 2021 sebesar 238 rupiah per lembar atau naik sekitar 80% dibandingkan diluted earning pada tahun 2020 yang hanya sebesar 151 per lembar.

Dampak Dilusi Saham

Efek dilusi saham bisa jadi buruk maupun baik. Berikut ini rincian beberapa dampak dilusi saham pada investor:

1. Penurunan hak voting investor

Seiring dengan penurunan proporsi kepemilikan sahamnya, hak voting seorang investor terhadap setiap keputusan perusahaan juga menurun. Tidak jarang right issue juga digunakan oleh investor dengan dana besar untuk mengurangi hak voting investor kecil dengan cara membeli saham baru sebanyak mungkin. Maka dari itu, tidak heran apabila right issue menjadi salah satu kebijakan perusahaan yang kurang disukai investor.

2. Potensi penurunan laba

Right issue juga berpotensi mengurangi pendapatan per saham yang bisa diperoleh investor. Hal ini terjadi apabila laba perusahaan tersebut tidak meningkat meskipun jumlah saham-nya yang beredar naik. 

Contohnya, perusahaan A awalnya memiliki saham sebanyak 1.000.000.000 lembar di Bursa Efek Indonesia. Lantas perusahaan tersebut menerbitkan saham sebanyak 1.000.000.000, sehingga saat ini ada 2.000.000.000 lembar saham A yang ada di bursa. 

Jika laba bersih perusahaan A tetap Rp. 200.000.000.000 (2 ratus miliar rupiah) meskipun ada lebih banyak saham yang di bursa, maka laba per saham (EPS) setiap investor perusahaan tersebut menurun dari 200 per lembar (Rp. 200.000.000.000/1.000.000.000) menjadi 100 per lembar (Rp. 200.000.000.000/2.000.000.000)

Meskipun demikian, penurunan laba per saham ini tidak akan terjadi apabila perusahaan A berhasil meningkatkan laba bersihnya setelah melakukan right issue. Data mengenai dilusi laba per lembar saham ini bisa Anda lihat di laporan laba rugi setiap perusahaan publik.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.