Lompat ke konten

10 Investasi Rendah Risiko Tapi Menguntungkan

Investasi rendah risiko menguntungkan

Investasi tidak hanya berpeluang untuk mendapatkan keuntungan, tetapi juga berpeluang untuk mendatangkan risiko.Risiko dalam investasi adalah peluang untuk tidak mendapatkan keuntungan atau bahkan mengalami kerugian dalam investasi tersebut. 

Namun bukan berarti semua instrumen investasi berisiko tinggi. Ada banyak instrumen investasi dengan risiko rendah yang sangat cocok untuk investor pemula yang cari aman saat berinvestasi. 

Akan tetapi, pada umumnya tinggi rendahnya tingkat risiko ini sebanding dengan tingkat keuntungan yang bisa diperoleh. High risk, high return atau semakin tinggi risiko, maka semakin tinggi pula potensi keuntungan. Berikut ini 10 investasi rendah risiko tapi bisa mendatangkan keuntungan:

1. Investasi Deposito

Instrumen investasi risiko rendah yang pertama adalah investasi deposito. Tidak sebatas itu, boleh dibilang investasi deposito juga bebas risiko. Hal ini karena beberapa hal:

  1. Suku bunga atau imbal hasil deposito tetap, lebih tinggi dibanding suku bunga tabungan dan tak jarang lebih tinggi dibandingkan inflasi (tergantung bank).
  2. Anda tidak perlu menentukan penggunaaan dana deposito tersebut sebab, alokasi dana deposito akan diputuskan oleh pihak bank sepenuhnya.
  3. Simpanan dalam bentuk deposito dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Jadi, kalau semisal pihak bank mengalami kebangkrutan, Anda bisa mengajukan klaim pengembalian deposito kepada LPS selama jumlah dana deposito yang Anda kumpulkan kurang dari 2 miliar rupiah.

Kekurangannya adalah Anda tidak bisa mencairkan dana deposito sewaktu-waktu sehingga kurang likuid. 

2. Obligasi Negara

Instrumen investasi minim risiko yang kedua adalah obligasi atau surat utang negara. Alasannya adalah pemerintah pusat pasti akan membayar jumlah pinjaman (utang) dan kupon yang berkembang dari surat utang tersebut terkecuali apabila negara terkait bangkrut. 

Saat ini, pemerintah Indonesia rajin merilis obligasi ritel (ORI) atau surat utang yang didesain khusus untuk investor ritel. Instrumen investasi ini bisa dibeli dengan modal 1 juta rupiah saja dan memiliki tingkat imbal hasil yang bervariasi. Rencananya, dana yang terkumpul dari ORI ini akan digunakan untuk membantu APBN dalam membiayai beberapa proyek negara. 

3. Sukuk Ritel

Sukuk adalah surat bukti penyertaan modal atas suatu proyek tertentu milik pemerintah. Surat berharga ini mirip dengan obligasi ritel di atas hanya saja berbentuk surat berharga syariah. Oleh karena itu, kupon sukuk ritel juga pasti akan dibayar oleh pemerintah kecuali apabila negara tersebut mengalami kebangkrutan. 

Penggunaan sukuk ritel juga hampir mirip dengan ORI. Hanya saja umumnya proyek-proyek yang akan didanai menggunakan sukuk ritel akan dijelaskan lebih lanjut oleh pemerintah untuk memenuhi salah satu syarat sukuk yaitu harus memiliki underlying asset

4. Reksa Dana Pasar Uang

Reksa dana pasar uang (RDPU) adalah instrumen investasi minim risiko yang selanjutnya. Hal ini karena dana yang terkumpul dalam instrumen ini dikelola oleh manajer investasi yang tentunya ahli di bidangnya dan dialokasikan ke beberapa instrumen di atas tergantung spesifikasinya. 

RDPU syariah misalnya bisa jadi dialokasikan untuk dana deposito di bank syariah sekaligus sukuk sementara dana RDPU biasa dialokasikan untuk investasi deposito di bank umum dan obligasi negara. 

5. Reksa Dana Obligasi

Mirip dengan reksa dana pasar uang, uang di reksa dana obligasi juga dikumpulkan dari banyak orang sekaligus dan dikelola oleh manajer investasi yang kompeten. Bedanya, sebagian besar alokasi RDO diberikan untuk obligasi atau sukuk sementara sisanya dialokasikan untuk investasi di saham. 

Oleh karena imbal hasil investasi saham lebih besar dibandingkan obligasi dan deposito, maka tingkat imbal hasil dan risiko RDO juga relatif lebih tinggi dibandingkan RDPU. 

6. Reksa Dana Indeks

Reksa dana indeks adalah jenis reksa dana yang dananya dialokasikan untuk berinvestasi di perusahaan-perusahaan yang masuk ke dalam indeks tertentu sehingga pergerakan nilainya bisa mirip dengan pergerakan nilai indeks tersebut. 

Misalnya uang reksa dana indeks IDX30 hanya akan dialokasikan untuk membeli saham perusahaan-perusahaan konstituen IDX30 saja. Jenis reksa dana ini bisa menjadi alternatif investasi untuk Anda yang ingin berinvestasi di perusahaan blue chip namun memiliki modal yang terbatas.

Anda bisa melihat rincian alokasi investasi berbagai jenis reksa dana di atas dengan melihat fund fact sheet (FFS) produk reksa dana terkait. 

7. Emas

Logam mulia adalah salah satu bentuk instrumen investasi yang paling umum. Sejak dulu, banyak masyarakat mengumpulkan barang berharga ini untuk dijual lagi ketika harganya naik atau disimpan untuk diwariskan saja. 

Salah satu logam mulia yang banyak diincar adalah emas. Hal ini karena emas digunakan sebagai bahan baku produk dalam banyak sektor, bisa dijadikan alat tukar di banyak negara sekaligus dan jumlah supply atau cadangan emas dunia terbatas. Akibatnya, harga emas dari waktu ke waktu juga cenderung naik. 

Emas juga merupakan safe haven bagi investor. Maka dari itu, tidak heran kalau lonjakan harga emas akan lebih tinggi apabila kondisi perekonomian dan pasar modal dunia sedang tidak stabil akibat krisis seperti, pandemi covid19 atau penyerangan Rusia terhadap Ukraina. 

8. Perak

Selain emas, perak juga merupakan logam mulia yang banyak diburu karena merupakan salah satu instrumen investasi minim risiko. Sama seperti emas, perak juga bisa digunakan sebagai alat tukar dan pembayaran di berbagai negara dan banyak dibutuhkan untuk kepentingan industri.

Hanya saja, umumnya harga perak lebih murah dibandingkan emas. Selain itu, data mengenai perubahan harga perak juga lebih susah ditemukan dibandingkan dengan emas. 

9. Investasi Properti

Investasi properti bisa dibilang merupakan investasi dengan risiko rendah apabila Anda tidak perlu mengeluarkan banyak modal tambahan untuk membangun atau mempersiapkan properti tersebut agar layak dijual atau disewakan seperti, mengontrakkan rumah atau kamar yang sudah ada, menyewakan lahan kosong untuk menjadi tempat parkir dan lain sebagainya. 

Sebaliknya apabila Anda perlu membangun properti baru seperti ruko, kos-kosan atau rumah kontrakan baru, maka bisa dibilang investasi tersebut berisiko tinggi karena membutuhkan banyak modal.

10. Efek Beragun Aset (EBA) Ritel

Efek Beragun Aset (EBA) adalah surat berharga yang terdiri dari sekumpulan kontrak kredit yang telah dipilih berdasarkan tingkat risikonya. Umumnya kontrak kredit yang dijual dalam bentuk EBA di Indonesia adalah kontrak Kredit Pemilikan Rumah (KPR). 

EBA dikatakan sebagai investasi minim risiko karena:

  1. Proses seleksi kontrak KPR untuk dijual menjadi EBA cukup panjang dari bank ke perusahaan sekuritas. 
  2. Kontrak KPR yang lolos seleksi akan dikelompokkan berdasarkan tingkat risiko.
  3. EBA bisa dijual di pasar sekunder dengan proses 1 hari. 
  4. Modal investasi EBA ritel hanya 100.000 tapi potensi keuntungan bisa mencapai 8%.
  5. Kupon investasi dibayarkan per tiga bulan. Kupon investasi ini diperoleh dari suku bunga kredit yang ditagihkan oleh bank kepada pihak debitur kredit KPR.
nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.