Lompat ke konten

Keuntungan Obligasi Pemerintah dan Kekurangannya

Keuntungan Obligasi Pemerintah dan Kekurangannya

Ada beberapa sumber penerimaan negara dan daerah yang bisa digunakan oleh pemerintah untuk membiayai berbagai proyek mereka. Selain pajak, ada juga Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), hibah, utang luar negeri dan lain sebagainya. Salah satu diantaranya adalah obligasi pemerintah. 

Apa itu Obligasi Pemerintah?

Obligasi pemerintah adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah pusat maupun daerah. Dalam beberapa literatur, obligasi pemerintah biasa juga disebut dengan istilah lainnya, seperti government bond, sovereign debt, treasury bond, Surat Utang Negara (SUN) dan lain sebagainya.

Tujuan dari penerbitan surat utang ini ada dua, yaitu untuk menjadi instrumen kebijakan fiskal dan menjadi instrumen kebijakan moneter. Obligasi negara menjadi kebijakan fiskal karena dengan mengumpulkan dana dari sumber ini, pemerintah bisa membiayai program-program mereka. Adapun obligasi sebagai instrumen kebijakan moneter karena dengan surat utang ini, pemerintah mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat sehingga bisa mengendalikan inflasi.

Di Indonesia sendiri, setidaknya ada dua jenis obligasi yang beredar di masyarakat, yaitu Surat Utang Negara (SUN), Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Kedua jenis obligasi atau sukuk ini nantinya diturunkan menjadi beberapa merk tergantung dengan jenis dan target investor, seperti Obligasi Ritel Negara (ORI) dan Sukuk Ritel (Sukri) untuk investor ritel. 

Obligasi pemerintah bisa dibeli oleh investor institusi maupun investor ritel tergantung dengan merk-nya. Ada surat utang yang khusus dibeli investor institusi karena bertujuan moneter, ada juga yang diterbitkan khusus investor ritel. 

Keuntungan Obligasi Pemerintah

1. Investasi rendah risiko

Obligasi pemerintah termasuk investasi yang rendah risiko, khususnya apabila dia diterbitkan oleh pemerintah pusat, dan bukan pemerintah daerah. 

Alasannya adalah, obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah pusat kemungkinan besar pasti akan dibayar, kecuali kalau pemerintah pusat sebuah negara bangkrut. Adapun untuk obligasi pemerintah daerah, Anda harus lebih hati-hati, sebab ada beberapa kasus surat utang jenis ini mengalami gagal bayar. 

2. Investasi dengan modal terjangkau

Penerbitan surat utang negara di Indonesia sudah ada sejak masa orde lama. Namun, dalam 20 tahun terakhir ini pemerintah negeri ini terus berinovasi dengan menyediakan instrumen investasi dengan modal terjangkau. 

Saat ini banyak produk obligasi pemerintah yang bisa dibeli hanya dengan Rp1.000.000 di pasar perdana. Tidak hanya itu, bahkan kini obligasi negara tidak hanya bisa dibeli di bank, tetapi juga bisa dibeli melalui aplikasi trading saham dan aplikasi supermarket reksa dana. 

3. Potensi passive income

Sama seperti saham, investor obligasi juga berpeluang untuk mendapatkan pendapatan pasif dari capital gain di pasar sekunder. Bedanya, investor saham mendapatkan dividen, sedangkan investor obligasi mendapatkan kupon. Besaran kupon ini lebih besar dibandingkan suku bunga deposito perbankan.Bedanya lagi, kupon obligasi negara bersifat tetap (fixed rate) dan dibayarkan per bulan sampai jatuh tempo. Ini artinya, Anda akan mendapatkan pendapatan pasif tetap.

4. Investasi pada proyek nyata

Salah satu keistimewaan investasi di obligasi negara dibandingkan obligasi korporasi adalah, dana yang terkumpul dari surat utang ini akan digunakan untuk menjalankan proyek yang nyata adanya. ORI misalnya, digunakan untuk membiayai berbagai program terkait COVID atau contoh lainnya dana sukuk ritel yang digunakan untuk berbagai proyek infrastruktur. 

5. Investasi yang cocok saat resesi

Dengan tingkat risiko yang rendah, maka tidak heran jika banyak investor yang mencari obligasi pemerintah saat resesi terjadi, Akibatnya, permintaan dan surat utang ini di pasar sekunder meningkat.

Kekurangan

1. Imbal hasil yang rendah

Salah satu kekurangan dari obligasi negara adalah potensi imbal hasilnya yang rendah. High risk high return, karena tingkat risiko investasi pada instrumen ini rendah maka tidak heran juga jika pemerintah menawarkan kupon dengan tingkat yang lebih rendah dibandingkan obligasi korporasi atau saham, meskipun tentunya lebih tinggi dibandingkan deposito.

2. Imbal hasil yang tidak menyesuaikan inflasi

Seperti yang telah disebutkan di atas, kupon obligasi pemerintah bersifat tetap (fixed rate). Sisi buruk dari fixed rate adalah imbal hasil instrumen ini tidak tanggap dengan perubahan inflasi. Untuk menjawab mengapa hal ini penting, mari kita ambil contoh.

ORI A terbit dengan kupon sebesar 5% ketika inflasi Indonesia 4%. Karena daya beli uang tergerus inflasi, maka keuntungan bersih ORI A hanyalah sebesar 1%. Apabila tahun depan inflasi Indonesia naik menjadi 6%, maka sesungguhnya investor tidak mendapatkan keuntungan dan malah rugi. Oleh sebab itu, umumnya harga obligasi pemerintah akan jatuh seiring dengan pemulihan ekonomi dari resesi dan inflasi meningkat. 

3. Risiko perubahan suku bunga

Selain inflasi, musuh lain dari obligasi adalah tingkat suku bunga acuan (BI7DRR). Pasalnya, biasanya jika inflasi naik suku bunga acuan juga akan naik. Secara teoritis, kenaikan suku bunga acuan akan berakibat kepada penurunan harga obligasi. 

Hal ini karena kenaikan suku bunga mendorong investor untuk beralih ke instrumen keuangan lain yang menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi atau kemudahan akses. Instrumen keuangan lain tersebut, seperti saham atau obligasi yang baru terbit dengan bunga lebih tinggi atau deposito yang menawarkan proses pencairan mudah. 

Risiko perubahan suku bunga ini akan lebih parah apabila obligasi terkait memiliki tenor jangka panjang. Untuk pembahasan yang lebih lengkap mengenai topik ini, baca artikel “Dampak suku bunga terhadap obligasi”.

4. Relatif kurang likuid

Obligasi relatif lebih susah dicairkan dibandingkan instrumen pasar uang, seperti deposito. Sama seperti saham, untuk mencairkan obligasi Anda juga perlu melewati proses settlement yang bisa memakan waktu 2-7 hari kerja.

Hal ini tentu berbeda dengan deposito perbankan yang bisa dicairkan hanya dalam waktu 1 jam saja (kecuali kalau Anda mengantri di bank) atau reksa dana pasar uang yang bisa dicairkan dalam waktu 2 hari kerja atau kurang. Kekurangan ini membuat instrumen yang satu ini kurang cocok untuk dana darurat. 

Beberapa Faktor Penting

Sama seperti instrumen investasi lainnya, Anda juga harus mempertimbangkan banyak faktor sebelum membeli obligasi pemerintah. Berikut ini diantaranya:

  1. Kegunaan dana yang terkumpul dari surat utang tersebut. 
  2. Kalau Anda tidak yakin dengan kemampuan bayar pemerintah pusat, Anda bisa melihat rincian dari alokasi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan berbagai hasil analisis para ahli. 
  3. Peringkat obligasi dari lembaga pemeringkat efek. 
  4. Potensi perkembangan inflasi dan suku bunga kedepannya. 
  5. Berbagai indikator teknis yang penting untuk membeli instrumen ini di pasar sekunder. 

Obligasi negara adalah salah satu sumber penerimaan negara di luar pajak, hibah dan utang luar negeri. Dengan membeli instrumen ini, secara tidak langsung Anda telah berkontribusi terhadap pembangunan nasional.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.