Lompat ke konten

Daftar Saham Perusahaan Sawit (CPO) Terbaik

Daftar Saham Perusahaan Sawit (CPO) Terbaik

Sawit adalah salah satu komoditas ekspor utama Indonesia. Hal ini karena kelapa sawit dapat diolah menjadi berbagai kebutuhan rumah tangga, mulai dari minyak goreng, margarin dan lain sebagainya. 

Maka dari itu tidak heran apabila saham-saham perusahan sawit banyak diincar oleh investor. Apalagi mengingat adanya potensi keuntungan akibat perang Ukraina-Rusia.

Berikut ini daftar saham perusahaan sawit (CPO) terbaik menurut nilai kapitalisasi pasarnya.

1. Astra Agro Lestari Tbk (AALI)

Astra Agro Lestari Tbk adalah bagian dari Astra Group yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit. Hingga tahun 2022, tercatat perusahaan ini mengelola kebun seluas 287.604 hektar yang terletak di pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Pada Maret 2021, perusahaan ini telah memproduksi lebih dari 1 juta ton fresh fruit bunch (FFB), 351 ribu ton CPO, 74 ribu ton biji sawit dan 150 ribu ton produk hasil penyulingan kelapa sawit. 

Astra Agro Lestari Tbk mulai listing di bursa pada tahun 1997. Kini saham perusahaan ini dijual dengan harga kurang lebih 9.100 per lembar. Dengan demikian, AALI menjadi salah satu perusahaan sawit dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar dan termasuk ke dalam indeks IDX30 dan LQ45. AALI juga merupakan saham pertanian top dengan diversifikasi bisnis yang baik.

2. Triputra Agro Persada (TAPG)

Perusahaan kelapa sawit dengan jumlah kapitalisasi pasar terbesar kedua adalah PT Triputra Agro Persada (TAPG). Perusahaan yang berdiri pada tahun 2005 ini kini telah mengelola lahan sawit seluas ±158.000 Ha dan lahan karet seluas 1.400 Ha. Lahan tersebut tersebar di 24 lokasi di Jambi dan Kalimantan.

Setidaknya ada 4 jenis produk yang dihasilkan oleh perusahaan ini, yaitu CPO, biji sawit (kernel), Slab (hasil penggumpalan karet), lembaran karet bergaris (ribbed smoked sheet). Hingga akhir tahun 2021, perusahaan ini berhasil memproduksi 849.688 ton CPO, 174.273 biji sawit, slab senilai 8 miliar rupiah, dan RSS senilai 10 miliar rupiah. Meskipun terdampak pandemi covid19, tercatat penghasilan perusahaan selama tahun 2021 terbilang cukup baik. 

3. Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA)

Sumber Tani Agung Resources Tbk atau STAA adalah perusahaan kelapa sawit yang berpusat di Medan, Sumatera Utara. Didirikan pada tahun 19970, kini perusahaan ini mengelola lahan seluas  42.158 hektar, memiliki 13 perkebunan kelapa sawit, 9 pabrik kelapa sawit, 1 pabrik pengolahan kernel, 1 pabrik pengolahan kernel yang didukung oleh energi terbarukan serta mempekerjakan 10.156 tenaga kerja.  

Pada tahun 2021, perusahaan ini berhasil memproduksi 383 ribu ton (CPO), 85 ribu ton inti sawit,  39 ribu ton minyak inti sawit (CPKO) dan 44 ribu ton ampas inti sawit (PKE). Meskipun terdampak covid19, akan tetapi kinerja perusahaan cukup baik. Hal ini dibuktikan dengan nilai pendapatan pada tahun 2021 yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. 

4. Sinar Mas Agro Resources and Tech Tbk (SMAR)

Sinar Mas Agro Resources and Tech Tbk merupakan salah satu anak bisnis Sinar Mas Group yang bergerak di bidang pertanian. Tidak hanya memproduksi bahan mentah, seperti FFB dan CPO, SMAR juga memproduksi berbagai merk barang konsumen berbasis kelapa sawit. Sebut saja brand yang diproduksi perusahaan ini diantaranya, Filma, Kunci Mas dan Pristine. 

Saat ini Sinar Mas Agro Resources and Tech Tbk mengoperasikan 137.100 hektar lahan, 16 pabrik kelapa sawit, 4 pabrik pengolahan inti sawit dan 4 pabrik rafinasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Per tahun 2021, total produksi perusahaan ini mencapai 700 ribu ton dengan rincian 550 ribu ton CPO dan 150 ribu ton inti sawit (kernel). 

5. Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS)

Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) adalah perusahaan perkebunan sawit yang terletak di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1995 dan mulai listing di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2013. Saat ini perusahaan ini mengelola lahan seluas 100.000 hektar yang terletak di 23 lokasi dan rencananya akan memperluasnya menjadi 150.000 hektar lahan dalam 5 tahun kedepan. 

Selain lahan seluas itu, SSMS juga memiliki 8 pabrik kelapa sawit (PKS) dan 1 pabrik kernel di Pangkalan Bun. Dari lahan dan pabrik tersebut, SSMS berhasil memproduksi 444.720 metrik ton CPO, 83.438 metrik ton kernel, 23.263 metrik ton minyak kernel dan 1.611.494 tandan buah segar (FFB) pada tahun 2021. Dibandingkan tahun 2020, hasil ini menunjukkan penurunan untuk produksi kernel, tetapi kenaikan produksi untuk minyak kernel dan FFB. 

6. PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP)

Boleh dibilang bahwasanya London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) atau yang disebut juga dengan Lonsum adalah perusahaan kelapa sawit tertua di Indonesia. Perusahaan ini didirikan oleh Harrisons & Crosfield Plc, sebuah perusahaan pertanian terbaik asal Inggris atas izin pemerintah kolonial Hindia Belanda pada tahun 1906.

Awalnya, perusahaan ini hanya memproduksi coklat dan karet. Baru pada tahun 1980-an, ketika sawit sedang booming, Lonsum mulai merambah ke perkebunan kelapa sawit. Sejak saat ini, komoditas ini menjadi penyumbang pendapatan utama LSIP.

Per Desember 2021, Lonsum mengelola 114.111 hektar lahan yang terdiri dari 93.853 hektar kelapa sawit, 16.228 hektar karet dan 4.030 hektar tanaman lainnya. Selain itu, perusahaan ini juga mengoperasikan 12 pabrik sawit yang terletak di Sumatera dan Kalimantan. Dari lahan dan pabrik tersebut, Lonsum berhasil memproduksi 505 ribu ton tandan buah segar dan 127 ribu ton CPO pada paruh awal tahun 2022.

7. Teladan Prima Agro Tbk (TLDN)

Teladan Prima Agro Tbk adalah perusahaan kelapa sawit yang didirikan pada tahun 2004 dan baru listing di Bursa Efek Indonesia pada April 2022 lalu. Meskipun baru berdiri dan IPO, perusahaan ini pada paruh awal tahun 2022 berhasil memproduksi 578.175 ton tandan buah segar, 129.694 Ton CPO dan 21.533 ton inti sawit. 

Dilansir dari Kontan, perusahaan ini mengelola lahan seluas 60.500 hektar yang semuanya terletak di Kalimantan Timur hingga tahun 2022. Dengan lahan seluas itu dan produksi yang efektif, maka tidak heran jika TLDN langsung menjadi salah satu perusahaan sawit dengan kapitalisasi pasar terbesar.

8.  Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP)

Salim Ivomas Pratama (SIMP) adalah lini Salim Group yang bergerak di bidang pertanian. Perusahaan ini juga membawahi beberapa perusahaan sawit lainnya, termasuk diantaranya adalah London Sumatera (Lonsum) di atas. 

Per Desember 2021, SIMP mengelola lahan seluas 300.749 hektar yang terdiri dari, 250.615 hektar lahan kelapa sawit, 16.228 hektar lahan karet, 14.411 hektar lahan tebu, dan sisanya dengan tanaman-tanaman lainnya, khususnya kakao dan teh. Selain itu, SIMP juga bekerja sama dengan petani plasma untuk mengelola 90.229 hektar plasma sawit dan karet, memiliki 27 pabrik sawit, 3 lini produksi karet remah, 2 lini produksi karet lembaran, 2 pabrik pengolahan dan penyulingan gula, 1 pabrik kakao dan 1 pabrik teh. Dari luas lahan dan fasilitas tersebut, SIMP telah memproduksi 1,28 juta ton tandan buah segar (FFB) dan 327 ribu CPO.

9. Provident Agro Tbk (PALM) 

Rekomendasi perusahaan kelapa sawit ke-9 adalah PT. Provident Agro Tbk atau PALM. Perusahaan yang merupakan hasil joint venture antara PT Saratoga Sentra Business dan PT Provident Capital Indonesia ini didirikan pada tahun 2006 dan kini telah mengelola lahan seluas 25.013 hektar di 8 situs yang terletak di Kalimantan dan Sumatera.

Pada tahun 2021 perusahaan ini berhasil menghasilkan 89.255 ton tandan buah segar (FFB), 25.316 ton CPO dan 4.456 ton kernel. Sebagai dampak dari covid19, jumlah produksi ini lebih rendah dibandingkan produksi tahun-tahun sebelumnya. 

10. Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG)

Di posisi ke-10 adalah PT. Dharma Satya Nusantara Tbk atau DSNG. DSNG adalah perusahaan sawit yang berdiri pada tahun 29 September 1980 dan awalnya tidak bergerak di bidang pertanian sawit, melainkan pada produksi kayu. Sawit baru menjadi sumber utama pendapatan perusahaan dalam beberapa tahun ini saja. 

Meskipun demikian, saat ini DSNG telah mengelola 112.450 hektar lahan dan 10 pabrik kelapa sawit yang semuanya terletak di Kalimantan Timur sembari tetap mempertahankan bisnis kayunya. Pada tahun 2021 saja, perusahaan ini telah memproduksi CPO sebanyak 544 ribu ton, 97 ribu ton kernel, 30 ribu minyak kernel dan 1,9 juta tandan buah segar.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.