Lompat ke konten

Scalping Saham: Pengertian, Teknik, Kelebihan, dan Kekurangan

Strategi Scalping Saham

Ada berbagai macam strategi yang dapat digunakan oleh investor untuk menuai keuntungan dari investasi di pasar modal. Salah satunya adalah scalping. Pelajari bagaimana teknik ini bergerak dan apa kelebihan dan kekurangannya dengan membaca artikel ini hingga selesai. 

Pengertian Scalping Saham

Scalping saham adalah strategi trading yang mana trader membeli dan menjual saham dalam waktu yang sangat singkat. Biasanya jangka waktu antara jual dan beli saham dalam teknik scalping hanya dalam kisaran menit. 

Oleh sebab itu, umumnya trader yang menggunakan strategi scalping cenderung memakai analisis teknikal dan beberapa sentimen penggerak saham saja alih-alih analisis fundamental saham tersebut. 

Perbedaan Scalping Dengan Day Trading dan Swing Trading

Strategi scalping memiliki sedikit kesamaan dengan day trading dan swing trading yaitu sama-sama membeli saham untuk dijual kembali dalam waktu singkat. Yang membedakan antara strategi scalping, day trading dan swing trading adalah waktunya. 

Seperti yang disebutkan di atas, scalper hanya memegang saham dalam kisaran menit sementara day trader biasanya membeli saham di pagi hari dan menjualnya kembali di sore hari menjelang penutupan bursa. Beda lagi dengan swing trader yang cenderung memegang saham dalam durasi yang lebih lama. Akibatnya, baik day trading ataupun swing trading cenderung lebih terpengaruh dengan kondisi fundamental sebuah perusahaan. 

Kelebihan dan Kekurangan Scalping Saham

Dilansir dari laman Investopedia, setidaknya ada 6 kelebihan dan 6 kekurangan strategi scalping. Kelebihan dan kekurangan tersebut adalah:

Kelebihan

  • Dapat menghasilkan keuntungan yang tinggi apabila investor bisa menerapkan strategi scalping dan waktu penjualan yang tepat. Artinya, kondisi pasar bisa jadi naik dan turun dalam waktu cepat sehingga seorang scalper harus pandai menentukan kapan waktu sahamnya dijual hanya dalam jangka waktu menitan.
  •  Scalper adalah strategi yang mengambil keuntungan dari kenaikan harga saham sekecil apapun. Jadi, meskipun kenaikannya kecil, seorang scalper bisa mendapatkan keuntungan besar asalkan jumlah saham yang dijual besar juga. 
  • Tidak perlu riset fundamental. Kondisi fundamental perusahaan cenderung akan berpengaruh terhadap harga saham dalam jangka waktu panjang. Dalam jangka pendek, harga saham akan lebih terpengaruh pada jumlah supply dan demand saja. Akibatnya, seorang scalper ‘hanya’ perlu belajar analisis teknikal dan aktif mengikuti berita-berita pasar modal saja.
  • Risiko pasar yang ‘kecil’. Setiap bisnis termasuk investasi pasti akan menghadapi risiko ketidakpastian pasar. Risiko ketidakpastian pasar ini cenderung akan lebih besar dalam jangka waktu lama dan akan lebih kecil dalam jangka waktu pendek. Artinya, Anda pasti lebih tahu apa yang akan terjadi pada investasi Anda  besok daripada apa yang akan terjadi 5 tahun ke depan bukan? Dengan logika ini, maka risiko pasar yang harus dihadapi oleh seorang scalper akan lebih kecil.  
  • Strategi scalping dapat dilakukan baik ketika market sedang bullish atau bearish. Sekali lagi karena strategi ini hanya mengandalkan perubahan harga dalam waktu kurang dari 1 jam. 
  • Dapat dilakukan secara otomatis menggunakan robot trading atau trading software lainnya. Tentu jika Anda tahu cara dan metode analisis teknikalnya. 

Kekurangan

  • Biaya transaksi yang tinggi. Seperti yang tertulis sebelumnya, untuk mendapatkan keuntungan tinggi menggunakan strategi scalping, seorang scalper perlu mengeluarkan modal yang cukup besar. Akibatnya, biaya transaksi yang harus dibayarkan oleh trader ke sekuritas penyedia layanan pun besar juga. 
  • Membutuhkan tingkat leverage yang tinggi agar keuntungan maksimum. Leverage adalah fasilitas ‘utang’ yang disediakan oleh pihak broker kepada trader untuk digunakan sebagai modal tambahan jual beli saham. Agar strategi scalping sukses, tak jarang scalper butuh utang leverage yang lebih tinggi. 
  • Tidak hanya butuh modal uang, strategi scalping juga butuh konsentrasi dan energi yang tinggi. Sebab meskipun bisa dilakukan otomatis menggunakan mesin, scalper tetap harus memantau pergerakan harga agar bisa menentukan kapan waktu jual yang tepat. 

Selain itu, strategi scalping juga biasanya diterapkan pada saham-saham yang memiliki tingkat volatilitas (perubahan harga) yang tinggi. Artinya, bisa naik cepat tapi kalau harganya anjlok juga bisa sangat tajam. Akibatnya, strategi ini relatif kurang cocok untuk dipakai oleh pemula. 

Teknik Scalping Saham

1. Moving Average

Moving average adalah indikator teknis untuk memprediksi pergerakan harga saham dengan cara menjumlah harga penutupan sebuah saham pada periode waktu tertentu dengan jumlah waktu yang diambil. Misalnya, harga penutupan saham A pada hari 1 dan 2 adalah 10 dan 11, maka moving average saham tersebut adalah (10+11)/2 atau 10.5. 

Meskipun terdengar sederhana, teknik ini dapat membantu Anda untuk menentukan kapan harus beli dan kapan harus jual saham dengan teknik scalping. Caranya adalah dengan menentukan periode waktu yang diinginkan dan memasang garis kombinasi angka fibonacci pada titik harga saham saat penutupan bursa.

2. Bollinger Bands

Bollinger bands adalah indikator teknis pada pergerakan harga saham yang menggunakan prinsip standar deviasi dari moving average. Artinya, jika Anda menggunakan teknik ini, Anda akan melihat tiga garis yaitu garis moving average yang ada di tengah-tengah pergerakan harga, garis bollinger band atas dan garis bollinger bands bawah. 

Pergerakan garis bollinger band ini akan menunjukkan 4 hal yaitu: apakah tren harga saham akan terus berlanjut atau berputar ke arah yang sebaliknya, target harga yang potensial, kapan volatilitas harga akan berakhir dan periode konsolidasi harga. Indikator ini juga mengindikasikan apakah suatu saham overbought atau oversold.

Untuk teknik scalping, beberapa trader pengalaman menyarankan bahwa untuk mencari saham yang memiliki garis bollinger band yang cenderung stabil. Sebab, itu artinya harga saham tersebut mungkin tidak akan melonjak tinggi tapi juga relatif aman dari turun terlalu tajam. 

Trader juga lebih baik mengambil posisi sell jika harga saham sudah menyentuh garis bollinger band atas dan mengambil posisi buy jika harga saham sudah menyentuh garis bollinger band bawah. Tapi ingat, tidak menutup kemungkinan harga saham akan turun melewati garis bollinger bands bawah. 

Kesimpulan

Teknik scalping adalah teknik jual beli saham dalam jangka waktu sangat pendek (kurang dari 1 jam). Keuntungan teknik ini didasarkan pada perubahan kecil pada pergerakan harga. Oleh sebab itu, agar nilai keuntungan bisa maksimum modal untuk melakukan teknik ini terbilang besar. 

Karena modal terbilang besar dan yang ditargetkan adalah saham dengan tingkat volatilitas yang tinggi, maka strategi scalping relatif kurang cocok untuk pemula. Namun demikian, jika pemula ingin mulai menggunakan teknik ini, maka lebih baik pemula tersebut melatih dirinya dengan modal minim dan akun demo terlebih dahulu. 

Selain itu agar pengetahuannya lebih lengkap pemula juga lebih baik belajar tentang teknik analisis investasi baik teknik fundamental maupun teknikal. Selamat mencoba!

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.