8 Tips Menghadapi Bear Market

  • Saham
Jangan Ngasal di Bear Market!

Kondisi pasar saham yang tengah terjadi penurunan harga setidaknya minus 20% dibanding harga tertinggi dikenal sebagai bear market atau kondisi pasar bearish. Pastinya di situasi itu, pasar benar-benar tak menarik bagi para investor.

Menantang market pun akan membahayakan investasi yang telah dibenamkan di saham. Dibutuhkan pendekatan yang berbeda pada kondisi ini. Berikut tips dan strategi investasi di saat bear market untuk menghasilkan profit maksimal.

1. Jangan Dikuasai Ketakutan

Melihat sejarah Bursa Efek Indonesia, sudah tak terhitung kejadian yang mampu meluluh-lantakkan harga saham. Kejadian itu misalnya resesi dunia pada masa orde baru, tragedi bom Bali, gempa bumi di beberapa daerah, dan yang belum lama ini sedang melanda dunia yaitu pandemi Covid-19.

Karena itu investor mesti dapat senantiasa memisahkan perasaan saat mengambil keputusan investasi. Misalnya saja pandemi Covid-19 yang menghajar dunia hampir dua tahun ini tentu cuma akan dianggap kejadian kecil pada tahun tahun mendatang.

Grafik IHSG yang menunjukkan terjadinya bear market pada awal 2020.
Kejatuhan harga saham di IHSG akibat Covid-19 pada awal 2020.

Harus dimengerti jika rasa takut merupakan emosi yang bisa menghalangi logika rasional ketika menghadapi sebuah kondisi. Selalu tenang lalu teruskan apa yang telah direncanakan sebelumnya.

2. Mengoleksi Saham

Poin paling krusial yang mesti dipahami dalam perlambatan ekonomi sebagaimana hari ini merupakan momen biasa untuk pasar saham. Segalanya sebatas bagian dari siklus.

Bagi investor long term yang menerapkan periode investasi di atas 10 tahun, malah bisa memanfaatkan situasi bear market ini dengan menjalankan averaging down saham. Yaitu melakukan akumulasi saham tanpa memperhatikan harga saat ini. Investor akan mengoleksi saham dengan harga rendah ketika market tengah terpuruk.

Kebanyakan saham yang dikuasai pun harganya turun banyak. Namun tidak usah risau, suatu saat harganya bakal meningkat lagi hingga level tertinggi. Investor tinggal merealisasikan keuntungan. Jika belum tahu, simak cara melakukan pembelian saham di link ini.

3. Jangan Menantang Beruang

Pada situasi market bearish, maka beruang yang lagi mendominasi sementara sang banteng lagi tak berkutik. Pepatah lama mengajarkan, berpura-puralah mati ketika bertemu beruang di alam buas. Itu pun bisa diterapkan untuk pasar saham.

Menantang beruang sama sekali tindakan ceroboh yang  benar-benar membahayakan. Selalu tenang dan jangan mengambil langkah mendadak, investor bisa melindungi diri dari terkaman sang beruang. Berpura-pura mati artinya investor menempatkan sebagian besar portofolio investasi mereka ke lokasi yang aman, misalnya memasukkannya ke Surat Utang Negara (SUN), obligasi, maupun instrumen investasi lain yang lebih aman dengan jatuh tempo singkat.

4. Pilih Diversifikasi

Memiliki portofolio investasi di saham, obligasi, deposito, maupun emas merupakan esensi dari mendiversifikasi investasi. Strategi menyusun portofolio investasi itu sesuai dengan tingkat risiko yang ditentukan, rentang waktu investasi, harga yang bisa diterima, dan aspek lain. Situasi yang dialami tiap investor pasti tak sama.

Strategi penempatan aset dengan tepat tentu bisa mencegah investor mendapatkan hasil terburuk bila dibanding menempatkan semua dana di satu wadah.

Mantra “Hindari menyimpan telur-telur dalam satu keranjang” pun bisa digunakan untuk investasi saham. Simpan telur di beberapa keranjang sehingga bila diantara keranjang investasi itu jatuh, investor tetap punya keranjang investasi lain. Tujuannya adalah menopang semua jenis investasi sehingga tak turun nilainya.

5. Menakar Kemampuan Menanggung Rugi

Melakukan investasi tentu saja diutamakan, hanya saja kebutuhan primer pun penting. Tak bijaksana bila investor memakai uang kebutuhan sehari-hari ke saham. Investor tak semestinya masuk ke pasar modal bila memang tak menerapkan jangka waktu investasi sedikitnya 5 tahun.

Jangan melakukan investasi melebihi jumlah yang mampu untuk ditanggung kerugiannya. Misalnya bila investor menjual properti ditambah harta lain, atau malah mengambil utang ke bank demi memodali investasi saham yang akan dilakukan. Ketika market lagi bearish maka koreksi pasar biasanya berefek signifikan ke harga saham sehingga investor mesti bisa bersabar atas posisi portofolio yang nilainya terus anjlok.

6. Pilih Saham Bagus

Saat market sedang bearish bisa saja membuka peluang besar bagi investor. Strateginya yaitu paham apa yang sedang dicari. Saham dengan harga meluncur ke bawah karena banyaknya aksi jual artinya sudah benar-benar murah merupakan hal biasa saat pasar bearish.

Bahkan Warren Buffet acapkali menilai jika market bearish adalah peluang emas membeli saham sebab harga dari emiten bagus pun jatuh sangat dalam yang artinya kebanyakan saham bagus berada di situasi undervalued. Warren Buffet biasanya akan membeli saham favorit dalam periode sulit tersebut sebab ia mengerti betul karakter pasar seperti itu yang pukul rata, semua terkena efeknya.

Daftar saham yang diterbitkan BEI merupakan standar statistik pergerakan harga dari kelompok saham yang ditentukan menurut tolok ukur tertentu. Bagi para investor pemula yang kesulitan menentukan saham mana yang akan dibeli saat market bearish, maka untuk gampangnya pilih saja emiten yang masuk dalam kelompok indeks LQ45 atau IDX30.

Tidak perlu takut, kelompok saham dalam indeks itu mayoritas menghasilkan likuiditas tinggi. Di samping itu emiten yang terdaftar pun termasuk perusahaan yang mempunyai background sekaligus fundamental bagus. Saham dari kelompok perbankan pun patut dipertimbangkan untuk dipilih karena sektor keuangan akan selalu digunakan masyarakat baik itu perekonomian sedang bagus atau buruk.

7. Saham Consumer Goods

Saham consumer goods adalah kelompok saham defensif. Saham ini memiliki sifat tak ikut dengan siklus bisnis. Biasanya juga menghasilkan performa lebih baik dibanding umumnya pasar yang sedang sulit. Emiten jenis ini masih menghasilkan dividen dengan laporan laba stabil yang tak dipengaruhi situasi pasar maupun perekonomian negara dan global.

Emiten dengan produk berupa barang-barang kebutuhan sehari-hari umpamanya sabun mandi, sabun cuci, odol, sampo atau mi instan adalah jenis saham defensif mengingat orang tetap mencari produk tersebut meski situasi ekonominya sulit. Kebanyakan saham tersebut berada dalam sektor consumer khususnya perusahaan fast moving consumer goods (FMCG).

8. Kecepatan Mengambil Aksi

Bila investor termasuk dalam kelompok trader harian, tentu trik ini bisa dilakukan untuk menangguk keuntungan. Pada perdagangan saham tiap hari, ada ARA serta ARB yang akan aktif ketika pasar atau suatu saham mencapai nilai tertentu.

Pihak regulator membuat ketentuan bahwa nilai Auto Reject Bawah (ARB) adalah 7% dari harga pembukaan dengan persentase bertahap pada Auto Reject Atas (ARA). Harga saham tiap hari pasti mengalami fluktuasi, dimana investor bisa menggunakan ARB tadi guna menangguk keuntungan yaitu membeli ketika harga saham hampir mencapai ARB kemudian menjual lagi ketika harga saham itu naik pada hari itu juga. Perlu banyak berlatih untuk bisa menguasai strategi ini dan melatih kepekaan.

Pastinya investor tak ada yang mau terperangkap dalam market bearish. Namun bila memang sudah terlanjur masuk ketika harga jatuh, masih ada sejumlah strategi yang bisa dijalankan. Investor bisa bertindak praktis dan defensif demi tetap menjaga nilai aset dan bahkan meraih keuntungan di saat pasar sedang lesu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *