Lompat ke konten

Turnover Saham: Pengertian, Cara Menghitung, Contoh, Limitasi

Turnover Saham

Salah satu aspek yang perlu diperhatikan saat memilih aset adalah likuiditas aset tersebut. Likuiditas adalah aspek yang mewakili sering atau tidaknya sebuah aset diperjualbelikan. Semakin tinggi tingkat likuiditas, maka semakin mudah pula seorang investor untuk menjual aset yang dia miliki atau membeli aset baru. 

Likuiditas sebuah saham dihitung dengan matriks yang bernama turnover saham atau yang dalam versi Bahasa Inggrisnya disebut dengan share turnover. Pahami apa itu share turnover dengan membaca artikel di bawah ini. 

Pengertian Turnover Saham

Turnover saham adalah matriks yang digunakan untuk menghitung likuiditas. Hasil perhitungan ini diperoleh dengan cara membagi jumlah saham sebuah perusahaan yang diperjualbelikan dalam satu periode tertentu dengan total jumlah saham perusahaan tersebut yang beredar di periode yang sama.

Semakin tinggi nilai matriks ini, maka semakin tinggi pula tingkat likuiditas saham tersebut. Artinya, investor atau trader juga akan lebih mudah menjual aset tersebut dan membelinya kembali karena jumlah pembeli relatif sama dengan jumlah penjual.

Matriks ini penting baik untuk investor, trader atau perusahaan itu sendiri. Karena, jika suatu saham tidak likuid, investor akan kesulitan menjual dan membelinya. Akibatnya, aset tersebut tidak laku dan perusahaan merugi. 

Cara Menghitung Turnover Saham

Seperti yang telah tertulis di atas, cara menghitung matriks ini adalah dengan membagi jumlah saham sebuah perusahaan yang diperjualbelikan dalam satu periode tertentu dengan total jumlah saham yang dirilis oleh perusahaan tersebut.

Rumus turnover saham adalah Share turnover = (jumlah saham yang diperdagangkan) / (total jumlah saham yang dirilis oleh perusahaan).

Apabila jumlah saham yang diperdagangkan (volume transaksi) dalam satu periode bermacam-macam, maka Anda perlu menghitung nilai rata-ratanya terlebih dahulu. 

Begitu pula jika perusahaan menambah atau mengurangi jumlah saham yang mereka rilis pada periode yang Anda analisis. Anda harus menambah atau mengurangi jumlahnya dulu. 

Contoh

Misalnya, PT X merilis 1.000.000 lembar saham di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 21 April 2021. Keesokan harinya, jumlah saham PT X yang diperdagangkan adalah sebesar 100.000 lembar. Maka, nilai share turnover-nya adalah sebesar:

Share Turnover = 100.000/1.000.000= 0,1 atau 10%. 

Faktor Yang Mempengaruhi Turnover Saham

Menurut CEO dari Pillar Wealth sebagaimana dilaporkan oleh Thebalance, tidak ada standar yang pasti mengenai berapa nilai turnover saham yang baik. Sebab, nilai matriks ini bisa bermacam-macam baik untuk perusahaan besar maupun perusahaan kecil.

Hal ini bisa jadi dipengaruhi beberapa faktor berikut ini:

1. Harga

Sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran untuk barang normal (normal goods), kenaikan harga berkorelasi negatif dengan permintaan. Artinya, jika harga saham sebuah perusahaan besar naik hingga puluhan ribu rupiah per lembar, maka kemungkinan besar jumlah permintaannya akan jatuh sehingga investor lama akan kesulitan menjual aset yang mereka miliki.

Sebaliknya, harga saham yang terjangkau memungkinkan perusahaan kecil untuk memiliki share turnover yang tinggi.

2. Kinerja perusahaan

Kinerja sebuah perusahaan berdampak tidak langsung pada indikator ini. Sebab, kinerja perusahaan akan mempengaruhi permintaan dan harga terlebih dahulu. Kinerja baik sebuah perusahaan biasanya akan meningkatkan jumlah permintaan saham perusahaan tersebut. Akibatnya, dalam beberapa saat harga aset tersebut akan naik sebelum akhirnya turun kembali. 

3. Jumlah trader yang aktif di saham perusahaan tersebut

Berbeda dengan investor, trader adalah orang yang setiap hari aktif menjual dan membeli saham sebuah perusahaan. Jadi, semakin banyak trader yang aktif menjual dan membeli sebuah saham pada periode waktu tertentu, dapat berpengaruh terhadap share turnover saham tersebut. 

4. Komposisi pemegang saham sebuah perusahaan

Tidak semua saham perusahaan diperjualbelikan di bursa dan dimiliki oleh investor ritel. Ada juga porsi saham yang dimiliki oleh keluarga pemilik perusahaan itu atau institusi lain yang bekerjasama dengan mereka. 

Faktor ini mempengaruhi turnover saham sebab, semakin banyak saham sebuah perusahaan yang dimiliki oleh investor ritel, maka semakin tinggi likuiditasnya. Alasannya adalah investor ritel atau trader relatif lebih rajin menjual dan membeli aset di Bursa Efek dibandingkan investor institusi.

5. Kepercayaan investor terhadap perusahaan

Dalam kasus-kasus tertentu, nilai share turnover perusahaan bisa rendah bukannya karena tidak adanya peminat (permintaan) tapi karena investor yang memiliki saham perusahaan tersebut tidak ingin menjual asetnya karena sangat percaya kalau investasi di perusahaan itu akan menguntungkan. 

Contohnya, saham Apple inc pada tahun 2018 yang hanya memiliki nilai share turnover sebesar 1%. Ketika itu, performa perusahaan teknologi ini cukup baik sehingga harga sahamnya yang sudah mahal jadi tambah mahal. 

Namun, hal ini sebenarnya tidak menyurutkan permintaan investor atas aset tersebut. Hanya saja, kemungkinan besar memang investor yang sudah berinvestasi di perusahaan ini enggan menjual kepemilikannya.

Jadi, jika Anda berpikir bahwa mengapa share turnover sebuah perusahaan besar tidak tinggi, maka bisa jadi dipengaruhi 5 faktor di atas.

Limitasi

Turnover saham yang tinggi hanya mengindikasikan likuiditas saham sebuah perusahaan dan tidak mencerminkan kinerja perusahaan tersebut. Bisa jadi, turnover saham yang rendah adalah akibat kenaikan performa sebuah perusahaan dan bisa jadi pula nilai turnover saham yang tinggi pada perusahaan kecil diakibatkan karena banyak trader yang ingin menjadikannya sebagai saham gorengan. 

Oleh sebab itu, Anda juga harus melengkapi matriks ini dengan menganalisis indikator fundamental lainnya seperti ROE, Earnings per Shares, Debt to Equity Ratio dan lain sebagainya. 

Pengaruh Turnover Saham 

Bagi investor, matriks ini secara umum berpengaruh terhadap lama atau tidaknya sebuah saham bisa terjual atau terbeli dengan harga yang diinginkan. Tentu hal ini akan berpengaruh terhadap jumlah kerugian yang harus diderita investor jika harga aset tersebut terus menerus turun. 

Sementara itu, bagi para trader matriks ini berpengaruh lebih tinggi. Sebab, keuntungan yang diperoleh trader, terutama scalper dan day trader, sangat terpengaruh dengan kecepatan perubahan harga. Bagi trader, nilai likuiditas yang tinggi berpotensi menghasilkan keuntungan sekaligus kerugian yang tinggi pula. 

Di sisi lain bagi perusahaan nilai share turnover yang rendah bisa berarti bahwa saham yang mereka rilis tidak diminati pasar atau terlalu mahal sehingga ada kemungkinan kalau perusahaan tersebut ingin merilis saham lagi tidak akan laku. 

Untuk mengatasi hal ini perusahaan bisa menerapkan kebijakan seperti, memperbaiki kinerja atau mengaplikasikan stock split supaya harga aset tersebut bisa terlihat lebih murah. 

Penutup

Turnover saham diperoleh dengan cara membagi volume transaksi sebuah saham pada periode tertentu dengan jumlah saham tersebut yang beredar di bursa. Matriks ini penting untuk mengukur likuiditas tapi tidak bisa menjadi patokan kinerja perusahaan yang merilis aset tersebut.

Additional source: Investopedia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.