Lompat ke konten

Cara Investasi Uang Untuk Anak Muda, Agar Untung Besar

Cara Investasi Uang Untuk Anak Muda

Investasi merupakan salah satu kegiatan yang sebaiknya dilakukan sejak dini. Hal ini karena investasi, khususnya di pasar modal, memiliki efek compounding yang membuat nilainya semakin besar apabila diinvestasikan dalam jangka waktu yang lebih lama. 

Namun, seringkali anak muda ragu untuk mulai berinvestasi karena berbagai alasan mulai dari belum punya pendapatan yang cukup, belum punya KTP dan NPWP, sampai tidak tahu bagaimana cara berinvestasi. Padahal, saat ini pemerintah sudah meringankan berbagai prasyarat untuk investasi di pasar modal. 

Berikut ini, cara investasi uang untuk anak muda agar menguntungkan:

1. Tentukan Tujuan Investasi Terlebih Dahulu

Langkah yang pertama adalah menentukan tujuan investasi terlebih dahulu supaya Anda tahu berapa uang yang harus ditabung per bulannya dan perlu jangka waktu berapa lama. Kedua hal ini nantinya akan menentukan instrumen apa yang bisa Anda pakai. 

Tujuan investasi tidak perlu muluk-muluk. Anda bisa berinvestasi sejak dini untuk membeli barang-barang yang Anda inginkan di masa depan seperti, membeli laptop, kamera, atau sekedar liburan akhir tahun bersama teman-teman. Akan tetapi, semakin panjang waktu yang Anda butuhkan untuk tujuan tersebut, maka semakin besar pula uang hasil investasi yang bisa Anda dapatkan. 

2. Belum Punya KTP? Bisa Pakai KK

Nomor Induk Kependudukan (NIK) adalah nomor yang menandai identitas kependudukan Anda di Indonesia. NIK ini tidak hanya tercantum di KTP tetapi juga di Kartu Keluarga (KK). Ini artinya, kalau Anda masih di bawah 17 tahun tapi tetap ingin berinvestasi di pasar modal, Anda bisa menggunakan NIK yang tercantum pada KK. 

Untuk Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Anda bisa menggunakan NPWP milik orang tua. Dengan catatan nama yang tercantum pada NPWP tersebut sama dengan nama orang tua Anda yang ada di KK. 

Pembuatan Single Investor Identification (SID) dengan tanpa KTP ini khususnya untuk produk reksa dana sebab, reksa dana tidak memerlukan pembukaan rekening dana nasabah (RDN) di bank (Detik).

Produk reksa dana terbagi lagi menjadi beberapa produk yang dapat Anda pilih sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan. Reksa dana pasar uang untuk investasi jangka pendek, reksa dana pendapatan tetap (obligasi) untuk jangka menengah dan reksa dana saham untuk jangka panjang. 

3. Pendapatan Sudah Bukan Alasan

Salah satu alasan mengapa generasi muda menunda-nunda investasi adalah karena pendapatan yang belum mencukupi. Khususnya apabila mengingat bahwa investasi harus menggunakan uang dingin.

Boleh dibilang saat ini pendapatan sudah bukan alasan untuk menunda-nunda investasi. Sebab, saat ini reksa dana bisa dibeli hanya dengan Rp. 10.000 saja. Begitu pula dengan tabungan emas yang bisa dibuka dan diisi hanya dengan Rp. 10.000-Rp.100.000 saja. 

Selain dari aspek harga instrumen, sekarang ini ada banyak cara seorang anak SMA atau mahasiswa mendapatkan pendapatan diluar uang saku dari orang tua. Sumber pendapatan tambahan tersebut mulai dari, membangun bisnis kecil-kecilan sendiri, menjadi guru bimbingan belajar atau menjadi asisten dosen. 

Bahkan beberapa kali pihak Bursa Efek Indonesia juga menyelenggarakan seminar dan kompetisi yang berhadiah gratis pembuatan SID dan top up investasi sebesar ratusan ribu rupiah. Sebagian dari total penghasilan tersebut bersama hadiah-hadiah lomba bisa Anda sisihkan untuk investasi. 

4. Pilih Instrumen Yang Tepat

Setelah Anda tahu tujuan dan sumber pendapatan yang bisa disisihkan untuk investasi, kini saatnya untuk memilih instrumen yang tepat. Selain reksa dana sebagaimana yang telah disebutkan di atas, umumnya investor pemula juga disarankan untuk membeli instrumen investasi aman yang memiliki risiko rendah hingga menengah sebagai berikut:

  1. Investasi emas melalui mekanisme tabungan emas. Kelebihannya, bisa diisi hanya dengan Rp. 10.000 sementara kekurangannya Anda harus awas terhadap perubahan harga jual dan harga buyback. 
  2. Investasi deposito. Kelebihannya dana aman karena disimpan di bank dan dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Karena berisiko rendah, deposito merupakan salah satu investasi terbaik untuk pemula. Kekurangannya, suku bunga rendah apabila dibandingkan reksa dana dan minimal setoran awal Rp. 5.000.000 sampai Rp. 10.000.000. 
  3. Investasi obligasi atau sukuk ritel negara. Kelebihannya dana aman karena dipinjamkan kepada pemerintah pusat dan minimal setor hanya Rp. 1.000.000. Kekurangannya, tidak bisa diisi ulang (top up) dan dicairkan.

Jika dana yang Anda miliki terbatas, Anda bisa memilih berinvestasi pada salah satu instrumen di atas. Namun, jika uang yang Anda miliki mencukupi, Anda bisa membeli ketiganya sekaligus untuk diversifikasi.

Jangan lupa, saat memilih instrumen yang tepat, Anda juga harus mengetahui dan memahami mengenai seluk beluk instrumen tersebut. Untungnya saat ini berbagai materi investasi sudah tersedia dalam berbagai bentuk dan platform mulai dari seminar, hingga podcast khusus investasi

5. Melakukan Diversifikasi Portofolio 

Cara investasi untuk anak muda selanjutnya adalah dengan melakukan diversifikasi portofolio investasi. Diversifikasi artinya, Anda tidak hanya berinvestasi pada satu instrumen saja melainkan beberapa instrumen sekaligus. Misalnya, membeli reksa dana pasar uang sekaligus reksa dana saham dan investasi deposito.

Tujuannya adalah supaya ketika ada satu instrumen mengalami kerugian, Anda masih memiliki investasi pada instrumen lain yang masih menuai keuntungan atau aman-aman saja. 

Setelah menemukan berbagai instrumen investasi yang menurut Anda tepat untuk kondisi keuangan saat ini, pastikan Anda menulis rencana investasi terlebih dahulu di microsoft excel. Tujuannya adalah supaya Anda memiliki patokan untuk berinvestasi dan bisa lebih disiplin. 

6. Disiplin

Cara investasi uang untuk anak muda yang terakhir adalah disiplin. Disiplin disini dalam artian Anda rutin mengeluarkan sebagian penghasilan untuk berinvestasi dan tidak mudah mencairkan dana investasi tersebut untuk kebutuhan yang kurang penting atau karena menghadapi kerugian. 

Perlu Anda ingat bahwasanya investasi tak ubahnya seperti bisnis pada umumnya. Ada kalanya mendapat keuntungan, tapi tak jarang juga mendapat kerugian. Salah satu penyakit yang umumnya menjangkiti investor pemula adalah mereka tidak disiplin dengan rencana investasi yang mereka buat sendiri entah itu dengan cara buru-buru membeli instrumen baru karena takut ketinggalan keuntungan (FOMO) atau buru-buru menjual aset yang mereka miliki karena takut rugi. 

Dengan bantuan teknologi, kini investasi bisa diakses melalui handphone saja dan tidak perlu mengeluarkan biaya besar. Dengan demikian tidak ada alasan lagi bagi anak mudah seperti Anda untuk menunda-nunda investasi.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.