Lompat ke konten
Daftar Isi
ForexIMF leaderboard banner ads.

Pengaruh Inflasi Terhadap Harga Saham

Pengaruh Inflasi Terhadap Harga Saham

Tahukah Anda bahwasanya selain kondisi keuangan perusahaan, kondisi ekonomi makro sebuah negara juga bisa berpengaruh terhadap harga saham. Salah satu indikator ekonomi makro yang bisa mempengaruhi harga saham adalah inflasi. 

Mari kita ambil contoh kasus yang belakangan ini mendera Amerika Serikat. Pada Juni 2022 lalu, indeks harga konsumen (salah satu faktor utama inflasi) negeri Paman Sam tersebut meroket hingga 8,6%. Hal ini berakibat  pada harga saham-saham yang masuk ke dalam indeks S&P 500 terus menurun dan masuk ke dalam fase bear market sepanjang bulan tersebut. 

Apa itu inflasi dan bagaimana indikator ekonomi ini bisa berpengaruh terhadap harga saham?

Pengertian Inflasi

Inflasi adalah fenomena peningkatan harga barang-barang secara serentak dalam periode waktu tertentu.

Inflasi sebenarnya merupakan fenomena yang wajar terjadi dalam ekonomi negara di seluruh dunia pada masa modern ini, akan tetapi ia harus dikontrol dengan baik.

Inflasi merupakan fenomena yang wajar karena dengan jumlah manusia yang semakin banyak, maka semakin banyak pula kebutuhan sandang, pangan, papan dan lifestyle yang harus dipenuhi. Akibatnya, harga sandang, pangan, papan dan kebutuhan lifestyle tersebut akan meningkat. 

Akan tetapi, di sisi lain inflasi juga bisa mempengaruhi daya beli masyarakat dengan mengurangi nilai tukar mata uang terhadap suatu barang. Sederhananya nih karena inflasi, Anda yang dulu bisa mendapatkan 2 gorengan dengan uang Rp1.000, kini hanya bisa mendapatkan 1 biji gorengan saja. 

Saat ini Indonesia menerapkan dua jenis inflasi yaitu inflasi target dan inflasi aktual. Inflasi target adalah tingkat inflasi yang diinginkan oleh Bank Indonesia sebagai otoritas moneter, sementara inflasi aktual adalah tingkat inflasi yang benar-benar terjadi di lapangan. 

Penyebab Inflasi

Penyebab inflasi ada 3 yaitu:

1. Demand pull inflation

Demand pull inflation adalah inflasi yang disebabkan oleh peningkatan jumlah permintaan, sementara jumlah penawaran sebuah barang diasumsikan tetap. Contoh mudahnya adalah harga tanah dan rumah. Harga tanah dan rumah terus naik dari tahun ke tahun karena jumlah orang yang ingin beli rumah baik untuk tempat tinggal atau investasi semakin tinggi, sementara jumlah penawaran tanah relatif tetap. 

2. Cost pull inflation

Cost pull inflation adalah inflasi yang disebabkan oleh peningkatan biaya produksi. Contoh mudahnya adalah kenaikan harga gorengan akibat kenaikan harga minyak goreng. Jika dulu saat harga minyak goreng masih sekitar Rp20.000 per liter Anda bisa mendapat 2 gorengan untuk uang Rp1.000, kini saat harga minyak goreng Rp25.000 per liter Anda hanya bisa mendapatkan 1 gorengan untuk 1.000 rupiah.Hal ini karena biaya untuk memproduksi gorengan naik, sehingga penjual gorengan juga menaikkan harga jual komoditasnya. 

3. Peredaran mata uang

Faktor lain yang bisa menyebabkan inflasi adalah peredaran mata uang. Teorinya, semakin banyak mata uang yang beredar di pasaran, maka semakin mudah pula orang untuk membeli sesuatu, sehingga harga sesuatu itu pun meningkat (demand pull inflation). Jumlah peredaran mata uang ini dikontrol oleh Bank Indonesia juga. 

Pengaruh Inflasi Terhadap Harga Saham

Topik mengenai pengaruh inflasi terhadap harga saham adalah salah satu topik yang banyak diteliti oleh para akademisi dan peneliti. Menurut Tandelilin dalam bukunya yang berjudul Portofolio dan Investasi (Teori dan Aplikasi) (2010), inflasi berpengaruh negatif terhadap harga saham karena bisa meningkatkan biaya produksi dan menurunkan potensi pendapatan perusahaan.

Hal ini senada dengan contoh penurunan harga indeks saham S&P 500 di atas yang anjlok dari 4.700-an pada awal tahun 2022 menjadi 3.600-an pada  16 Juni 2022. Ketika itu, indeks harga konsumen (IHK) Amerika Serikat naik terus dari 7% hingga 8,6%. 

Akan tetapi kalau dilihat sekilas saja, teori inflasi berpengaruh negatif terhadap harga saham ini tidak berlaku di Indonesia. Sebab, menurut data BPS, inflasi di 90 kota pada paruh awal memang meningkat dari 0,56 menjadi 3,19. Namun peningkatan harga barang-barang ini tidak diikuti dengan penurunan IHSG pada periode yang sama. Pada kuartal pertama tahun 2022, nilai IHSG menguat dari 6.600 jadi 7.200 sebelum kemudian relatif sideways di level 6.500-6.700an hingga tulisan ini dibuat. 

Ambiguitas ini mengindikasikan bahwa untuk mendefinisikan dampak investasi terhadap pasar saham, investor dan trader harus membaca banyak penelitian mengenai topik ini. Sebab, acap kali dampak inflasi terhadap pasar saham di dua negara yang berbeda juga akan memberikan dampak yang berbeda. 

Selain itu, tidak menutup kemungkinan tentang adanya perbedaan pengaruh inflasi terhadap harga saham di sektor yang berbeda pada tahun yang sama. Belum lagi secara teoritikal, analisis terhadap topik ini tidak bisa dilakukan hanya dengan menggunakan data 1 periode tahun saja.

Beberapa Hasil Penelitian Mengenai Dampak Inflasi Terhadap Harga Saham

  1. Rapach D.E (2001): Dengan menggunakan data pasar saham dari 16 negara maju di dunia, Rapach menyimpulkan bahwasannya tidak ada korelasi yang signifikan antara inflasi dan harga saham. 
  2. Graham (2006): Dengan menggunakan data pasar saham Amerika Serikat pada tahun 1953-1990, Graham menyimpulkan bahwa hubungan antara inflasi dan harga saham tidak stabil. Ada kalanya positif dan ada kalanya juga negatif. 
  3. Lapodis (2006): Berkebalikan dengan Graham, Lapodis dengan menggunakan data pasar saham AS pada 1970-1980 menyimpulkan bahwasanya ada korelasi negatif antara harga saham dan inflasi. 
  4. Tambunan dan Aminda (2021): Tambunan dan Aminda menggunakan data IHSG bulanan dari Mei 2015-April 2020 menyebutkan bahwa untuk pasar saham Indonesia, tidak ada pengaruh negatif signifikan antara inflasi dan harga saham.
  5. Dwi Wulandari (2015): Menggunakan data inflasi bulanan dan IHSG dari tahun 2001-2013, Dwi menyimpulkan bahwa tidak ada korelasi yang signifikan antara inflasi dan harga saham di pasar saham Indonesia.
  6. Sugeng Raharjo (2010): Raharjo menyimpulkan bahwa inflasi berpengaruh positif terhadap harga saham 19 perusahaan di Bursa Efek Indonesia.

Cara Menghadapi Inflasi Sebagai Investor Saham

Dengan berbagai hasil penelitian yang berbeda itu, lantas bagaimana cara menghadapi inflasi sebagai investor saham?

1. Tetap tenang

Dari pembahasan di atas, terlihat bahwasannya meskipun secara teoritis dampak inflasi terhadap saham adalah negatif (kalau inflasi naik, harga saham anjlok), namun pada kenyataannya hal ini sering bervariasi. Oleh sebab itu, investor pada saat seperti ini disarankan untuk tetap tenang dan mengambil keputusan tidak berdasarkan emosi. 

2. Terus membaca

Membaca di sini bisa berarti membaca grafik harga saham, membaca berita-berita ekonomi maupun membaca hasil analisis para ahli. Tujuannya adalah supaya trader dan investor bisa lebih yakin dalam mengambil keputusan investasi. 

3. Keep on eye on value stock

Value stock adalah jenis saham yang diperkirakan undervalued alias nilai intrinsiknya lebih besar dibandingkan harga sahamnya. Umumnya, perusahaan yang masuk dalam kategori value stock adalah perusahaan yang mapan dan memiliki cash flow yang bagus. Saham-saham seperti ini cenderung lebih aman dibandingkan growth stock di saat inflasi sedang tinggi-tingginya seperti saat ini.

Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa inflasi bisa jadi tidak mempengaruhi harga saham secara langsung, tetapi secara simultan dengan berbagai indikator ekonomi makro lainnya, seperti suku bunga acuan, GDP dan lain-lain. Maka dari itu, alih-alih inflasi saja, investor dan trader disarankan untuk memperhatikan indikator ekonomi lainnya juga.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *