Lompat ke konten

3 Jangka Waktu Investasi Saham, Pilih Yang Cocok

Jangka Waktu Investasi Saham

Menurut konsep time value of money, nilai uang kita di masa kini akan terasa lebih berharga dibandingkan nilai uang kita di masa depan. Beberapa tahun lalu kita bisa membeli gorengan hanya dengan uang 500 rupiah. Tapi sekarang satu potong bakwan bisa seharga 1000 rupiah. 

Dari perumpamaan di atas tentu jelas bahwasanya waktu adalah salah satu komponen penting dalam ekonomi khususnya investasi. Oleh karena itu, penting bagi seorang investor untuk menentukan jangka waktu dalam berinvestasi saham sebelum mulai membeli sebuah aset investasi.

Berikut ini 3 jangka waktu investasi saham yang bisa Anda pilih:

Jangka Waktu Investasi Saham

1. Jangka pendek

Jangka waktu investasi saham yang pertama adalah jangka pendek atau kurang dari satu tahun. Dalam hal ini, Anda bisa memilih antara dua “profesi” yaitu menjadi trader atau menjadi investor jangka pendek saja. 

Trader adalah partisipan pasar modal yang membeli dan menjual sahamnya dalam jangka waktu yang sangat pendek bisa harian, satu hari saja atau bahkan hanya dalam beberapa menit dan jam. Umumnya profesi ini ditekuni oleh investor-investor yang sudah berpengalaman karena membutuhkan analisis teknis yang sangat kuat. 

Adapun profesi yang kedua adalah investor jangka pendek atau investor yang memegang saham hanya dalam waktu beberapa bulan saja. Biasanya hal ini didorong karena investor tersebut perlu memenuhi kebutuhan dalam jangka pendek saja. Misalnya, membeli saham untuk persiapan masuk sekolah anak pada bulan Juli depan dan lain sebagainya. 

Jika orientasi Anda adalah keuntungan, maka Anda disarankan untuk membeli saham dengan tingkat volatilitas yang cukup tajam sehingga Anda bisa mendapatkan keuntungan maksimal (tentu saja jika strateginya tepat). Hanya saja, risiko berdagang saham dengan volatilitas tajam juga sangat tinggi.

Namun sebaliknya, kalau orientasi Anda adalah memenuhi kebutuhan jangka pendek, maka disarankan untuk membeli saham dengan tingkat volatilitas yang cukup rendah misalnya, saham perusahaan-perusahaan blue chip. Dengan demikian, kalau sewaktu waktu Anda butuh uang, Anda tidak perlu menelan kerugian. 

2. Jangka menengah

Jangka waktu investasi saham yang kedua adalah jangka menengah atau kisaran waktu 1-5 tahun. Umumnya investor yang berinvestasi saham pada jangka waktu ini adalah investor yang sedang mempersiapkan kebutuhan mereka dalam jangka waktu tersebut. Contoh, untuk jalan-jalan ke Raja Ampat dua atau tiga tahun lagi, atau mempersiapkan studi dan pernikahan dan lain sebagainya. 

Saham yang cocok untuk investasi jangka menengah adalah saham dengan tingkat volatilitas menengah juga alias naik turunnya harga saham tersebut tidak terlalu tajam tapi juga tidak terlalu landai. 

3. Jangka panjang

Tujuan investasi saham jangka panjang adalah salah satu tujuan investasi yang paling cocok untuk investasi saham. Hal ini karena dalam jangka panjang, semakin besar kemungkinan imbal hasil investasi akan terkumpul sehingga bisa menyamai tingkat risiko investasi di saham tersebut. 

Investasi jangka panjang biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang atau lebih dari 5 tahun seperti, membeli rumah, membayar sekolah anak (padahal belum punya anak) atau menyiapkan dana pensiun.

Dengan strategi ini, Anda sebaiknya mengoleksi saham yang cocok untuk dipegang jangka panjang yaitu dengan menghindari saham berkualitas rendah. Pilih emiten dengan prospek cerah dalam 20 tahun ke depan.

Semakin dini Anda menyiapkan investasi untuk jangka panjang ini, maka semakin tinggi pula kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan dan kemungkinan untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik. 

Mengapa Memahami Jangka Waktu Dalam Investasi Saham itu Penting

Tujuan dan waktu investasi perlu dipertimbangkan oleh seorang investor karena kedua faktor ini menentukan instrumen investasi apa yang paling cocok untuk investor tersebut dan bagaimana tingkat risikonya.

Tidak jarang ahli yang menganggap bahwa saham adalah instrumen investasi yang cocok untuk investasi jangka panjang saja, sementara reksa dana untuk jangka pendek dan obligasi untuk jangka menengah.

Anggapan ini tidak salah mengingat tingkat risiko investasi saham memang lebih tinggi dari kedua instrumen tersebut. Namun Anda perlu ingat bahwasannya instrumen ini sendiri terdiri dari ratusan saham yang memiliki profil risiko berbeda.

Misalnya saham dengan label blue chip cenderung lebih aman untuk investasi jangka pendek bukan trading karena fluktuasi harganya yang seringkali tidak terlalu tajam, perusahaan yang sudah memiliki nama dan terbukti hasil kinerjanya dan lain sebagainya. 

Sebaliknya, untuk investasi jangka panjang Anda disarankan untuk membeli saham dengan tingkat volatilitas yang cukup tinggi. Namun demikian, bukan berarti Anda bisa membeli saham “gorengan”

Pilihlah saham dengan volatilitas tinggi yang memiliki tingkat likuiditas yang tinggi pula serta memiliki prospek bisnis dan fundamental yang menjanjikan. Jangan asal pilih saham karena tingkat volatilitasnya yang tinggi saja karena bisa jadi saham tersebut memang sengaja digoreng oleh pihak tertentu untuk mendapatkan keuntungan sepihak.

Berapa Jangka Waktu Investasi Saham Yang Ideal?

Tidak ada patokan yang pasti mengenai berapa jangka waktu investasi saham yang ideal. Semua tergantung dengan tujuan investasi Anda. Tentu menyiapkan investasi untuk dana pensiun memerlukan jangka waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan menyiapkan investasi untuk pernikahan. Tapi yang jelas, semakin dini Anda melakukan investasi, maka semakin besar pula kemungkinan Anda untuk mendapatkan keuntungan dari investasi tersebut. 

Apalagi saat ini investasi sudah bisa dilakukan hanya dengan uang Rp. 100.000 saja dan bisa memakai NPWP serta KTP orang tua yang artinya sekarang anak SMA pun sudah bisa mulai berinvestasi. 

Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Investasi Saham?

Meskipun sebaiknya investasi dimulai sejak dini, namun ada beberapa waktu terbaik untuk membeli saham. Waktu tersebut adalah:

1. Membeli saham setelah laporan keuangan dirilis

Laporan keuangan perusahaan umumnya dirilis pada bulan April, Juli, September, dan Januari sehingga satu bulan setelah bulan-bulan tersebut adalah waktu yang tepat untuk membeli saham sebab laporan keuangan inilah yang bisa jadi pertimbangan utama untuk membeli saham perusahaan tersebut. 

Selain itu, biasanya pada bulan November sampai awal tahun baru juga ada dua fenomena penting yaitu window dressing dan January effect. Window dressing adalah fenomena dimana perusahaan sengaja mempercantik laporan keuangannya untuk menarik investor baru sementara January effect adalah fenomena banyaknya orang berbelanja investasi setelah mendapatkan bonus tahunan. 

2. Ketika kondisi keuangan perusahaan incaran sedang baik

Investor yang baik adalah investor yang membeli suatu saham bukan karena ikut-ikutan tapi karena memang telah menganalisis keuangan perusahaan terkait dan merasa kalau kondisi keuangan perusahaan tersebut cukup baik dan konsisten. 

3. Ketika perusahaan incaran memiliki prospek bisnis cerah

Selain faktor keuangan, faktor lain yang harus dipertimbangkan oleh seorang investor adalah faktor prospek bisnis. Investor yang baik tentu akan berinvestasi di perusahaan dengan prospek bisnis cerah. Karena itu artinya perusahaan tersebut berpotensi tetap menghasilkan laba dalam beberapa tahun ke depan. 

Nah, itu tadi jangka waktu investasi saham dan kapan waktu yang tepat membeli saham untuk Anda. Silahkan dipilih mana yang paling cocok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.