Daftar Saham Konstruksi Terbaik di 2021, BUMN dan Swasta

  • Saham
Perusahaan Konstruksi Terbaik

Saham konstruksi adalah saham dari perusahaan yang memiliki bisnis pada jasa konstruksi bangunan, pengembangan lahan, properti, jalan tol, dll. Perusahaan di sektor ini dapat berupa BUMN atau swasta dan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo yang pertama yaitu dari tahun 2014 hingga 2019, saham infrastruktur cukup diminati para investor di pasar. Minat tersebut diprediksi tetap berlanjut pada periode pemerintahan ke-2. Seperti diketahui, pemerintahan Jokowi terutama di 2021 menggaungkan agenda besar pembangunan infrastruktur di tanah air.

Dalam masa pemerintahan Jokowi, infrastruktur di berbagai wilayah di Indonesia, khususnya luar Jawa dipandang penting untuk dibangun sekaligus dikembangkan. Sehingga, pemerintah pun menyediakan anggaran yang cukup besar diambilkan dari APBN guna mewujudkannya.

Pengerjaan berbagai proyek infrastruktur tadi memerlukan perusahaan konstruksi, khususnya perusahaan Badan Usaha Milik Negara di bidang konstruksi. Di samping menjadi kontraktor, beberapa perusahaan tersebut pun sebagai investor.

Sebagian perusahaan BUMN konstruksi itu sahamnya sudah melantai di bursa efek yaitu: Adhi Karya (ADHI), Waskita Karya (WSKT), Pembangunan Perumahan (PTPP) serta Wijaya Karya (WIKA).

Sementara beberapa anak usahanya pun sudah melakukan IPO atau penawaran saham perdana seperti: Waskita Beton (WSBP), Wijaya Karya Beton (WTON), PP Properti (PPRO), PP Presisi (PPRE) dan beberapa lainnya.

Perusahaan konstruksi tentu saja tak hanya berasal dari BUMN saja. Dari perusahaan swasta pun banyak yang bagus dikoleksi sahamnya misalnya Total Bangun Persada (TOTL), Surya Semesta Internusa (SSIA), dan masih banyak lagi.

Berikut daftar saham konstruksi terbaik yang terdiri dari BUMN dan swasta beserta kinerjanya di 2021:

1. Waskita Karya (WSKT)

Waskita Karya (WSKT)

Waskita Karya adalah perusahaan konstruksi BUMN yang didirikan dari tahun 1961 silam. WSKT merupakan perusahaan nasionalisasi dari semula dijalankan pemerintah Belanda.

Salah satu karya emiten saham konstruksi ini adalah Gedung BNI46, Gedung Bank Indonesia (BI), Hotel Shangri-La dan juga Menara Mandiri Plaza.

Waskita Karya mulai menjual sahamnya 2012 silam. Waskita Karya membukukan laba sebesar Rp 41 miliar pada semester I 2021 sementara di tahun sebelumnya mengalami kerugian bersih hingga Rp 1,09 triliun. Laporan keuangan lengkapnya bisa Anda temukan di link ini.

Laba bersih tersebut ditunjang divestasi tiga jalan tol dengan nilai Rp 2,1 triliun. Keuntungan sebanyak Rp 2,1 triliun itu pastinya bisa mendukung modal kerja, pembiayaan proyek, serta memperkuat produktivitas di paruh kedua 2021. Dengan laba tinggi serta dukungan sebagai perusahaan pemerintah, Waskita Karya semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu perusahaan berstatus blue chip.

2. Adhi Karya (ADHI)

Adhi Karya (ADHI)

Adhi Karya merupakan saham sub sektor konstruksi dan bangunan yang terkenal. Emiten konstruksi milik negara ini juga hasil nasionalisasi dari Belanda.

Bisnis yang dikelola Adhi Karya mencakup konstruksi, engineering & construction (EPC), properti, industri, hingga investasi. Performa keuangan Adhi Karya mulai pulih kendati belum maksimal imbas dari pandemi Covid-19.

Para Analis yakin jika kinerja ADHI bisa positif tahun ini bersamaan dengan kontrak baru yang diperoleh. Pada kuartal kedua 2021, ADHI membukukan penurunan pendapatan sebanyak 19% yoy ke Rp 4,44 triliun dari semula Rp 5,52 triliun di periode tahun sebelumnya.

Kendati pendapatan anjlok namun saham konstruksi ini sukses mencetak peningkatan laba sebanyak 19% ke Rp 8,20 miliar dari semula Rp 6,99 miliar tahun sebelumnya. Meskipun performanya belakangan jauh dari memuaskan, Adhi Karya tetap menjadi salah satu emiten dengan market capitalization terbesar di Indonesia.

3. Wijaya Karya (WIKA)

Wijaya Karya (WIKA)

WIKA merupakan salah satu PT kontraktor terbesar di Indonesia. BUMN yang dibentuk tahun 1960 silam ini dulu bernama Perusahaan Negara Bangunan Widjaja Karja. Emiten ini sahamnya dimiliki 65% oleh pemerintah.

Bisnisnya meliputi engineering dan procurement and construction. Beberapa bangunan infrastruktur yang pernah ditangani WIKA misalnya: simpang susun Semanggi, Terminal 3 Bandar Udara Soekarno-Hatta, Bendungan Jatigede, Bandar Udara Ngurah Rai, Jembatan Suramadu, dan jalur Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Kinerja saham konstruksi ini pada kuartal pertama 2021 tetap lemah. Terjadi penurunan pendapatan dan laba bersih pada tiga bulan pertama tahun 2021. Pendapatan bersih WIKA pada kuartal pertama 2021 sebanyak Rp 3,92 triliun atau anjlok 6,4% bila dibanding tahun sebelumnya yang bisa mencetak Rp 4,19 triliun.

Berkurangnya pendapatan bersih tersebut mengakibatkan beban pokok pendapatan WIKA pun berkurang 1,08% ke Rp 3,65 triliun. Hasilnya, laba kotor WIKA anjlok 47,24% yang semula Rp 508,83 miliar tahun lalu kini hanya Rp 268,45 miliar.

4. PT Pembangunan Perumahan (PTPP)

PT Pembangunan Perumahan (PTPP)

PT PP sering dianggap sebagai saham konstruksi terbaik karena memiliki berbagai aset yang dikenal masyarakat. Nama awalnya adalah NV Pembangunan Perumahan yang dibentuk tahun 1953. PTPP berhasil membangun berbagai gedung megah mulai dari Hotel Indonesia, Bali Beach Hotel, Ambarukmo Palace Hotel Yogyakarta, dan Samudera Beach Hotel Pelabuhan Ratu.

Performa keuangan BUMN kontraktor ini berpeluang membaik sejalan dengan adanya pemulihan ekonomi tahun 2021 ini. Sampai kuartal ketiga 2020 perusahaan konstruksi milik negara ini mencatat penyusutan pendapatan sebanyak 37,02%  menjadi Rp 10,02 triliun. Akibatnya, laba bersih pun mengecil 94,92% menjadi hanya Rp 26,37 miliar.

Sejumlah analis memperkirakan nilai kontrak PTPP tahun 2021 meningkat 26% menjadi Rp 28 triliun bila dibandingkan tahun lalu yang hanya Rp 22,2 triliun. Karenanya saham PTPP dianggap murah dan tetap menguntungkan untuk dimiliki karena saham konstruksi ini pun punya neraca keuangan kuat. Jika tertarik memilikinya, pastikan membeli lewat perusahaan sekuritas yang terpercaya.

5. Total Bangun Persada (TOTL)

Total Bangun Persada (TOTL)

Total Bangun Persada adalah perusahaan pembangunan swasta yang memiliki bidang uaha konstruksi serta layanan yang berhubungan. Perusahaan berdiri tahun 1970 dan telah menyelesaikan puluhan proyek pembangunan di berbagai daerah di tanah air.

Terjadinya pandemi Covid-19 tak menghentikan pekerjaan TOTL. Di penghujung tahun 2020 TOTL mendapat kontrak dari Intiland Development untuk membangun apartemen SQ Res yang targetnya selesai tiga bulan pertama tahun 2023. Lalu saat masih menyelesaikan Sakura Garden City di bulan Maret 2021 kemarin, emiten pun mendapat kontrak baru pembangunan hotel sebesar Rp26 miliar.

TOTL memiliki target nilai kontrak baru hingga Rp2 triliun sampai berakhirnya tahun 2021. Target itu lebih besar 138,9% bila dibanding pencapaian kontrak baru tahun 2020 yang hanya Rp837 miliar. Demi mewujudkan target itu maka perusahaan pun mengincar tender untuk pembangunan gedung apartemen, shopping mall, industri, hotel, kantor dan gedung multifungsi.

6. Surya Semesta Internusa (SSIA)

Surya Semesta Internusa (SSIA)

Emiten saham konstruksi swasta dengan kode SSIA ini masih harus melalui beban berat akibat merosotnya kinerja keuangan. Sementara terjadinya pemulihan ekonomi dimungkinkan bisa meningkatkan permintaan akan lahan industri yang berimbas positif untuk jangka panjang. Saham SSIA ini pun cukup menarik dan masih layak untuk dikoleksi karena memiliki aset bangunan yang terdiversifikasi.

SSIA membukukan penambahan rugi bersih menjadi Rp 78 miliar kuartal pertama 2021 sementara tahun lalu di periode sama hanya sebesar Rp 17 miliar. Rugi bersih tersebut diakibatkan pelemahan kinerja keuangan semua usaha, terutama penjualan lahan industri maupun bisnis konstruksi. SSIA diproyeksikan masih membukukan kerugian sampai tahun 2021 berakhir. 

Hanya saja beberapa analis masih merekomendasikan beli saham SSIA pada target harga Rp 800 yang artinya harga diskon 59% dari estimasi nilai aset bersih (NAV) perusahaan.

7. Jasa Marga (JSMR)

Jasa Marga (JSMR)

Jasa Marga kerap dianggap sebagai BUMN konstruksi terbaik karena memiliki peran sentral dalam pembangunan jalan tol di tanah air. Saham konstruksi berkode JSMR ini tetap optimis dapat mempertahankan performa keuangan pada 2021 kendati ada potensi berkurangnya pendapatan.

Faktor tersebut karena kondisi likuiditas pasar yang baik yang dapat memangkas beban bunga 1%-2%. Hingga akhir tahun 2020, utang jangka panjang JSMR ke pihak bank menyentuh angka Rp 52,98 triliun yang sedikit meningkat dari sebelumnya Rp 25,67 triliun.

Saham JSMR tetap berpeluang jatuh jangka pendek sampai menengah. Diperkirakan pada kuartal tiga atau kuartal empat baru mulai pemulihan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *