Lompat ke konten

Growth Investing vs Value Investing: Lebih Baik Yang Mana?

growth vs value investing

Apa perbedaan investor yang membiayai startup saat sedang masa inkubasi dan investor startup tersebut saat sudah listing di bursa? Yup! Cara dan gaya mereka berinvestasi.

Investor yang sudah “menyumbang” modal saat sebuah perusahaan masih akan didirikan atau sudah berdiri tapi masih kecil boleh dikategorikan sebagai penganut growth investing. Sedangkan investor yang membeli saham perusahaan tersebut ketika sudah listing di bursa dan harganya masih lebih murah daripada yang seharusnya, bisa disebut menganut value investing

Apa perbedaan keduanya? Bukankah keduanya sama-sama investor? Penasaran? Simak pembahasannya berikut:

Apa itu Saham Growth?

Pertama-tama, mari kita pahami dulu apa itu saham growth.

Sebuah saham, boleh dibilang sebagai saham growth apabila memiliki beberapa kategori berikut ini:

  1. Umumnya, saham tersebut dirilis oleh perusahaan yang baru masuk bursa atau bahkan masih akan didirikan sehingga fokus perusahaan tersebut adalah ekspansi bisnis dan bukan membayar dividen kepada investor. Perusahaan yang sudah besar juga bisa masuk ke dalam kategori ini apabila punya fokus ekspansi dalam beberapa tahun ke depan.
  2. Memiliki rata-rata EPS sekitar 5% untuk perusahaan dengan valuasi sekitar 4 miliar USD, 7% untuk perusahaan dengan valuasi sekitar 400 USD dan 12% untuk perusahaan yang memiliki valuasi di bawah nilai tersebut. Nilai ini diperoleh dari hasil EPS dalam 5-10 tahun terakhir.
  3. Memiliki potensi pendapatan yang kuat. 
  4. Memiliki profit margin yang kuat. Profit margin diperoleh dari total penjualan dikurangi biaya operasional. Hasil dari pengurangan tersebut dibagikan dengan total penjualan lagi. Matriks ini diperlukan sebab tidak jarang perusahaan yang sedang dalam fase pertumbuhan terlalu mengejar penjualan dengan tanpa memperhatikan faktor biaya dan profit.
  5. Nilai kenaikan harga saham minimal 15% dalam setahun atau bisa double dalam kurun waktu 5 tahun. Harga saham yang baru akan naik dua kali lipat dalam jangka waktu 10 tahun tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori ini. 
  6. Nilai ROE meningkat dalam beberapa tahun terakhir. ROE diperoleh dari hasil bagi antara pendapatan bersih dengan jumlah saham yang beredar. Nilai ROE yang stabil atau meningkat secara tidak langsung menunjukkan kompetensi manajemen perusahaan dan komitmen mereka terhadap modal yang diberikan investor. 

Salah satu contoh saham growth yang dalam beberapa tahun terakhir ini cukup mengemuka adalah saham dari perusahaan-perusahaan teknologi seperti, Apple, Amazon atau Netflix. Meskipun dalam beberapa bulan ini harga saham perusahaan tersebut mengalami koreksi, namun tidak dapat dipungkiri bahwa harga saham AAPL, AMZN dan NFLX telah naik tajam dari saat IPO.

Apa itu Saham Value?

Saham value adalah saham dari perusahaan bagus, tapi harganya sedang murah (di bawah harga yang seharusnya / undervalued). Berbeda dengan saham growth, saham value umumnya merupakan surat berharga yang dirilis oleh perusahaan yang sebenarnya sudah cukup mapan. Akan tetapi karena satu dan lain hal, harga saham tersebut turun.

Penurunan harga saham ini bisa jadi karena adanya krisis ekonomi, skandal yang menimpa direktur perusahaan tersebut secara pribadi dan faktor lain yang hanya mempengaruhi harga saham saja dengan tanpa berpengaruh terhadap keuangan perusahaan secara fatal.

Misalnya, nilai book value saham perusahaan A adalah sebesar Rp. 3.500 per lembar. Namun, investor dan trader di pasar memperjualbelikannya dengan harga Rp. 3.000 per lembar. Ini artinya, harga saham tersebut bisa naik lagi menyentuh nilai Rp. 3.500 sehingga, apabila membelinya saat ini, Anda berpotensi untuk mendapatkan untuk Rp. 500 per lembar saham. 

Konsep mengenai saham growth dan value seringkali hanya berupa teori dan pendekatan saja. Beberapa saham juga bisa termasuk kedua kategori tersebut sekaligus. Anda juga perlu riset yang mendalam mengenai model bisnis dan kondisi keuangan perusahaan untuk menentukan apakah saham yang Anda incar termasuk growth atau value. 

Perbedaan Growth Investing dan Value Investing

Konsep growth dan value investing memang mirip-mirip. Maka dari itu, tidak heran kalau investor kelas kakap seperti Charlie Munger, Warren Buffett dan Peter Lynch menganggap keduanya bisa dicampurkan.

Namun, dari definisi stock value dan growth di atas, ada perbedaan yang cukup mencolok dari kedua konsep ini yaitu:

1. Fokus perusahaan

Seperti yang telah dibahas di atas, umumnya saham growth adalah surat berharga yang diterbitkan oleh perusahaan yang baru berdiri atau baru listing di bursa. Adapun saham value adalah saham dari perusahaan yang sudah mapan akan tetapi sedang terkoreksi sehingga turun di bawah potensinya. 

Dari paradigma ini, dapat disimpulkan bahwa jika Anda membeli saham AAPL ketika Apple Inc baru listing di bursa pada tahun 1980, Anda bisa disebut sebagai growth investor. Akan tetapi, jika Anda membeli saham perusahaan yang didirikan oleh Steve Jobs ini saat ini ketika harganya sedang turun, maka Anda bisa disebut sebagai value investor. 

2. Risk and reward ratio

Jika Anda membeli saham 1.000 lembar  AAPL pada tahun 1982 dan menjualnya pada 23 Desember 2021, Anda akan mendapat untung 173.010 USD. Hal ini karena pada tahun 1982 harga saham Apple per lembar hanyalah 0,060 sementara pada Desember tahun lalu nilainya mencapai 173 USD. 

Sungguh keuntungan yang besar bukan? Akan tetapi, Anda di tahun 1982 pasti akan berpikir apakah investasi di perusahaan baru ini akan sukses atau tidak. Padahal bisa uang senilai 60 USD ketika itu sudah termasuk besar. Risiko investasi gagal karena perusahaan yang gagal maju ini juga akan dihadapi oleh investor dengan gaya growth investing lainnya. 

Di sisi lain, investor dengan gaya value investing tidak menghadapi risiko ini. Hal ini karena biasanya mereka berinvestasi pada perusahaan yang sudah mapan tapi harga sahamnya sedang terkoreksi. Mereka memiliki margin of safety yang besar. Risiko yang harus mereka hadapi adalah harga saham perusahaan tersebut tidak kembali naik seperti yang mereka harapkan. 

Misalnya, Anda menilai bahwa harga saham Apple menurut laporan keuangannya harusnya 173 USD per lembar dan saat ini dijual dengan harga 137 USD sehingga Anda membelinya. Namun 1 tahun setelah proses pembelian selesai, harga saham Apple hanya naik ke angka 146 USD. Ini artinya, Anda tidak mendapatkan keuntungan maksimal sebesar 35 USD per lembar dan melainkan hanya mendapatkan keuntungan 13 USD per lembar.

3. Orientasi waktu

Perbedaan yang ketiga adalah orientasi waktu atau time horizon. Umumnya, investor dengan gaya investasi growth investing memiliki orientasi waktu yang panjang entah itu, 5 atau 10 tahun ke depan baru kemudian mereka melepas kepemilikannya kalau hasil investasinya menguntungkan. 

Di sisi lain, banyak pihak berpendapat bahwa orientasi waktu value investing lebih pendek daripada growth investing. Sebab, tidak menutup kemungkinan mereka akan menjual aset yang dimiliki apabila harga aset tersebut naik ke level yang diinginkan.

Namun demikian, ada juga value investor yang bertahan berinvestasi di sebuah perusahaan dalam jangka lama seperti Warren Buffett.

Lebih Baik Growth Investing Atau Value Investing?

Anda dapat memilih growth investing apabila:

  1. Anda tidak tertarik untuk mendapatkan penghasilan dari portofolio investasi Anda saat ini. Alasannya adalah, perusahaan dengan saham growth cenderung mengalokasikan keuntungannya untuk ekspansi sehingga jarang memberikan dividen kepada investor. 
  2. Anda memiliki toleransi risiko yang tinggi. Karena dirilis oleh perusahaan yang masih berkembang, pergerakan harga saham growth cenderung memiliki volatilitas yang tinggi. Artinya, kalau sedang bullish ya naiknya bisa tinggi, tapi kalau bearish ya bisa anjlok tajam.
  3. Anda percaya diri dengan hasil analisis yang Anda lakukan. Umumnya, growth investor adalah perusahaan investasi atau individu yang memiliki kemampuan untuk menganalisis saham dengan bagus. Sebab, tentu tidak mudah untuk memilih satu diantara sekian banyak perusahaan rintisan untuk dijadikan mitra investasi. 
  4. Alasan lain mengapa umumnya growth investor adalah institusi atau individu dengan kekayaan yang mencukupi adalah untuk mendapatkan keuntungan dari investasi ini, mereka harus menunggu cukup lama. Sebab, tidak jarang perusahaan yang fokus pada ekspansi bisnis belum mendapatkan profit dalam jangka waktu 5-10 tahun sejak didirikan. 

Perlu dipahami juga bahwasanya tidak semua orang bisa menjadi growth investor. Selain karena modal terbatas, tidak semua orang bisa mengakses laporan keuangan atau laporan tahunan perusahaan yang belum masuk bursa. Investor yang memiliki akses terhadap laporan perusahaan private ini umumnya adalah investor institusi seperti perusahaan investasi atau venture capital atau investor individu tapi memiliki relasi dengan founder perusahaan atau individu yang sudah punya nama di bidang ini. 

Value investing akan cocok untuk Anda apabila:

  1. Anda ingin mendapatkan keuntungan investasi dalam waktu dekat. Perusahaan yang mapan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk membayar dividen, dibandingkan perusahaan yang sedang berkembang.
  2. Anda memiliki toleransi risiko rendah atau menengah. Harga saham perusahaan besar seperti, saham-saham blue chip cenderung tidak terlalu fluktuatif dibandingkan perusahaan yang masih baru masuk bursa. 
  3. Anda percaya diri dengan hasil analisis yang Anda lakukan. Jika growth investor harus percaya diri dengan hasil analisis untuk memilih saham baru terbaik, maka value investor harus percaya diri saat memilih saham perusahaan dengan harga murah tapi tidak murahan. Sebab, tidak jarang saham dengan harga murah memang berkualitas buruk dan tidak memiliki potensi untuk naik sama sekali. 
  4. Anda memiliki modal dan akses terbatas. Seperti yang telah tertulis di atas, growth investing tidak cocok untuk Anda apabila Anda tidak memiliki laporan keuangan perusahaan sebelum perusahaan tersebut masuk bursa. Jadi, apabila akses bahan analisis Anda hanya sebatas pada apa yang ditampilkan perusahaan ketika sudah IPO, maka value investing kiranya lebih cocok. 

Terlepas dari apapun gaya investasi yang Anda pilih, Anda perlu analisis yang kuat untuk menerapkan gaya tersebut untuk mendapatkan keuntungan. Dalam hal ini, Anda perlu melakukan berbagai analisis keuangan yang dibutuhkan seperti, ROE, P/E ratio, PEG ratio, dan membutuhkan pemahaman yang mendalam bagaimana operasi bisnis perusahaan tersebut bisa dilakukan dan mendapatkan keuntungan.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.