Lompat ke konten

Perbedaan Bank Swasta dan Bank Pemerintah

Perbedaan Bank Swasta dan Bank Pemerintah

Saat ini layanan perbankan sudah tidak bisa dipisahkan lagi dari kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan semakin meningkatnya jumlah transaksi digital, masyarakat Indonesia semakin membutuhkan layanan dari institusi ini mulai dari transfer sampai mengakses pinjaman. 

Tapi, tahukah Anda kalau saat ini ada 107 bank yang beroperasi di Indonesia? Di antara jumlah  tersebut ada 5 diantaranya yang merupakan perusahaan milik negara yang dikelola oleh BUMN dan sekitar 26 bank pembangunan daerah (BPD) dan sisanya merupakan lembaga keuangan swasta.

Lalu, apa perbedaan bank swasta dengan milik pemerintah? Simak ulasannya berikut ini:

Pengertian Bank Pemerintah 

Bank pemerintah adalah lembaga keuangan  yang sebagian besar modalnya berasal dari pemerintah. Menurut sumber pendanaannya, perusahaan ini terbagi lagi menjadi dua yaitu perusahaan yang sumber pendanaannya dari pemerintah pusat dan dikelola sebagai BUMN dan perusahaan yang sumber pendanaannya dari pemerintah daerah dan dikelola sebagai BUMD (BPD). 

Ada 5 bank pemerintah yang berstatus sebagai BUMN yaitu Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Nasional Indonesia (BNI), Bank Tabungan Negara (BBTN) dan Bank Syariah Indonesia (BRIS). Adapun jumlah bank pembangunan daerah atau BPD ada 26 contohnya Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (BJBR). 

Kalau dari segi jenis usahanya, lembaga pendanaan milik pemerintah bisa dibagi dua yaitu lembaga pendanaan konvensional dan syariah. Adapun satu-satunya bank syariah yang dimiliki oleh pemerintah pusat adalah Bank Syariah Indonesia (BSI) yang notabene merupakan gabungan dari BNI Syariah, Mandiri Syariah dan BRI Syariah. Selain BSI, beberapa BPD juga memiliki unit usaha syariah (UUS) contohnya, BJB Syariah. 

Pengertian Bank Swasta

Bank swasta adalah lembaga keuangan yang seluruh modalnya berasal dari masyarakat (bukan pemerintah). Apabila dilihat dari sumber modalnya, perusahaan ini bisa dibagi menjadi dua yaitu swasta nasional dan swasta internasional.

Bank swasta nasional adalah lembaga keuangan yang sebagian besar modalnya berasal dari warga negara Indonesia (WNI) contohnya, BCA, Bank Sinarmas dan lain sebagainya. Adapun bank swasta internasional adalah perusahaan keuangan yang didirikan oleh warga negara asing (WNA) atau lembaga pendanaan swasta nasional yang saat ini sebagian besar sahamnya dimiliki oleh WNA. Contoh institusi ini seperti: BTPN, HSBC, KB Bukopin, dan CIMB Niaga. 

Dilihat dari segi usahanya, lembaga pendanaan swasta ini juga bisa dibagi menjadi bank konvensional dan syariah (BUS) atau punya unit usaha syariah (UUS). Contoh perusahaan swasta yang masuk ke dalam lini syariah adalah Bank Muamalat  dan lain sebagainya.

Layanan bank swasta juga bisa dibagi menurut layanan devisa dan non devisa. Bank swasta nasional devisa adalah lembaga keuangan yang menyediakan layanan transaksi ekspor impor dalam bentuk valuta asing sementara bank non devisa tidak bisa melayani transaksi yang berhubungan dengan valuta asing (valas). 

Perbedaan Bank Swasta dan Bank Pemerintah

Secara garis besar, layanan bank pemerintah dan swasta sama saja. Anda bisa menabung, mengajukan kredit atau bekerja sama dengan keduanya sekaligus. Namun demikian, Perbedaan yang paling kentara antara lembaga pendanaan milik pemerintah dan swasta ini adalah sumber permodalan. Lembaga pendanaan dari pemerintah umumnya memiliki potensi modal yang lebih besar karena bisa mengakses bantuan dari APBN (BUMN) atau APBD (BPD) secara langsung. 

Dulu, sumber permodalan bank pemerintah hanya terbatas dari pemerintah pusat saja dan tidak ditujukan untuk mendapatkan profit. Namun kini semua perusahaan keuangan BUMN tersebut sudah melakukan initial public offering (IPO) sehingga sebagian sahamnya bisa dimiliki oleh masyarakat baik itu warga negara Indonesia (WNI) maupun warga negara asing (WNA) dan punya fokus yang lebih besar terhadap profit dibandingkan sebelumnya. Hal ini sah-sah saja selama kepemilikan pemerintah pusat masih di atas 51%. 

Di sisi lain seluruh modal bank swasta diperoleh dari masyarakat luas. Hal ini membuat lembaga pendanaan swasta ini lebih susah mendapatkan bantuan permodalan sehingga lebih mudah beralih kepemilikan dibandingkan lembaga pendanaan dari pemerintah di atas. Namun demikian, terdapat beberapa kasus yang membuat perusahaan ini mendapatkan bailout (bantuan pendanaan) dari BI. 

BCA misalnya, sempat puluhan tahun dimiliki oleh Salim Group sebelum kemudian diambil alih dan mendapatkan bailout dari pemerintah dan institusi asing pasca krisis 1997-1998 dan pelan-pelan beralih menjadi milik Djarum Group hingga saat ini.

Bank Swasta Dengan Nilai Aset Terbesar Di Indonesia

Meskipun tidak mendapatkan sokongan permodalan dari pemerintah, namun bukan berarti perusahaan keuangan swasta di Indonesia tidak memiliki kinerja yang baik. Umumnya, baik atau tidaknya kinerja sebuah bank diukur dari besaran nilai asetnya. Karena besar kecilnya nilai aset bank secara umum mewakili besar kecilnya kepercayaan masyarakat Indonesia untuk menabung dan mengambil pinjaman dari lembaga tersebut. 

Berikut ini 5 bank swasta dengan nilai aset terbesar di Indonesia:

1. Bank Central Asia (BCA)

BCA merupakan perusahaan pendanaan swasta terbesar di Indonesia saat ini. Tidak hanya menjadi emiten dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia, BCA juga merupakan bank swasta dengan nilai aset terbesar di negeri ini. Menurut laporan keuangan bulanan April 2022, perusahaan ini berhasil membukukan aset senilai Rp. 1.261 triliun (seribu dua ratus enam puluh satu triliun rupiah).

BCA juga telah meluncurkan blu by BCA yang berfokus untuk bersaing di kancah bank berbasis digital.

2. CIMB Niaga

Perusahaan hasil merger antara CIMB Group dengan Niaga Group ini pada April 2022 berhasil membukukan aset senilai 305 triliun rupiah atau turun 6 triliun dibandingkan akhir tahun lalu. Sebelumnya pada akhir tahun 2021, CIMB berhasil mencatatkan aset senilai 311 triliun rupiah. 

3. OCBC NISP

Satu angka di belakang CIMB Niaga ada perusahaan swasta internasional bernama OCBC NISP. Pada April 2022, lembaga keuangan yang dimiliki oleh OCBC Group Singapore ini mencatatkan total aset senilai 220 triliun rupiah atau turun sebesar 5 triliun rupiah dibandingkan total aset pada bulan sebelumnya. 

4. Panin Bank

Pada laporan bulanan Panin Bank pada April 2022 tercatat bahwa total aset perusahaan yang berdiri pada tahun 1971 ini mencapai 184 triliun rupiah. Meskipun terbilang tinggi, namun nilai ini 30 triliun lebih rendah daripada total aset yang dilaporkan Panin di laporan triwulanan mereka pada akhir Maret 2022. 

5. BTPN

Bank swasta dengan nilai aset terbesar kelima adalah Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN). Perusahaan yang kini 92% sahamnya dimiliki oleh Sumitomo Mitsui Banking Corporation dari Jepang ini mencatatkan total aset sebesar  174 triliun rupiah pada bulan April 2022 atau lebih rendah sebesar 50 triliun dibandingkan bulan sebelumnya.

Produk paling terkenalnya adalah Jenius BTPN (baca reviewnya) yang telah digunakan jutaan nasabah.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.