Lompat ke konten

5 Saham Bank BUMN Yang Ada di BEI

Saham Bank BUMN

Salah satu investasi yang paling konservatif di pasar aman adalah berinvestasi di saham bank BUMN. Karena dimiliki negara, kemungkinan perusahaan-perusahaan tersebut bangkrut sangat kecil.

Dari puluhan saham perusahaan perbankan yang telah listing di BEI, 5 diantaranya merupakan bank BUMN atau perusahaan perbankan yang lebih dari 51% sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Berikut saham bank BUMN terbaik yang ada di BEI:

1. Bank Rakyat Indonesia (BBRI)

Boleh dibilang bahwasanya BRI adalah salah satu lembaga keuangan tertua di Indonesia. Lembaga ini awalnya didirikan oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja di Purwokerto (Banyumas), Jawa Tengah pada tahun 1895. 

Setelah lebih dari 100 tahun beroperasi, akhirnya pada tahun 2003 BRI menerbitkan saham perdananya. Saat ini saham BRI dijual dengan harga 4.490 rupiah per lembar dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai 673 triliun rupiah. BBRI juga pernah melakukan stock split pada November 2017.

Selain fokus pada bisnis perbankan, BRI juga mulai merambah dunia asuransi dan investasi. Pada tahun 2019, BRI mengakuisisi Asuransi Bringin Sejahtera Artamakmur dan perusahaan sekuritas Danareksa. Sementara itu, pada tahun 2021 BRI bekerja sama dengan perusahaan BUMN lainnya yaitu Pegadaian dan PNM untuk mendirikan BUMN Holding Ultra Mikro. Dengan mendirikan holding ini, harapannya penyaluran kredit UMKM semakin lancar dan tepat sasaran. 

2. Bank Mandiri (BMRI)

Bank Mandiri adalah bukti nyata bahwa krisis 1998 pernah menghancurkan ekonomi Indonesia khususnya sektor perbankan. Pasalnya, perusahaan ini lahir dari hasil penggabungan 4 bank kecil milik pemerintah yang terdampak krisis. 4 bank tersebut adalah  Bank Bumi Daya (BBD), Bank Dagang Negara (BDN), Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim), dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo).

Setelah melakukan restrukturisasi besar-besaran pada awal pendiriannya, perusahaan ini kini berhasil menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia. Saat ini saham BMRI dijual dengan harga 8.425 rupiah dengan kapitalisasi pasar sebesar 389 triliun. 

Bank Mandiri juga mengembangkan sayapnya dengan membuka usaha keuangan lain mulai dari membuka perusahaan sekuritas (Mandiri Sekuritas), perusahaan asuransi (AXA Mandiri) hingga perusahaan multifinance atau leasing dengan Mandiri Tunas Finance. 

3. Bank BNI (BBNI)

Bank BUMN yang pertama kali melantai di bursa adalah BNI. Perusahaan yang didirikan pada tahun 1946 ini melakukan initial public offering pada tahun 1996 atau tepat 50 tahun setelah didirikan. Sekarang ini BNI telah memiliki kurang lebih 2.262 cabang di seluruh Indonesia dan 8 cabang di luar negeri termasuk di Seoul, Hongkong dan New York.

Sama seperti dua perusahaan sebelumnya, BNI juga memiliki lini bisnis di sektor investasi dengan BNI Sekuritas (BIONS), sektor asuransi dengan BNI Life Insurance dan sektor leasing dengan BNI Multifinance. Sebagai tambahan, BNI juga membuka layanan di bidang remitansi (pengiriman uang dari luar negeri ke Indonesia) dengan BNI Remittance Ltd.

Kedudukannya sebagai bank berstatus BUMN menjadikan BNI sebagai salah satu lembaga keuangan terbesar di Indonesia.

4. Bank Syariah Indonesia (BRIS)

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Maka dari itu, tidak heran kalau pasar perbankan syariah di negeri ini sangat besar. Perbankan syariah adalah lembaga perbankan yang seluruh transaksinya berdasarkan hukum-hukum Islam.

Selain itu perbedaan utama antara bank syariah dan bank konvensional adalah perusahaan ini juga diawasi oleh Dewan Syariah Nasional yang terdiri dari ahli agama Islam dari Majelis Ulama’ Indonesia (DSN-MUI). 

Saat ini, industri perbankan syariah di Indonesia terbagi menjadi dua sub-kategori yaitu bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS). BUS adalah perusahaan yang berdiri khusus untuk menyediakan layanan keuangan syariah, sementara UUS adalah anak usaha dari bank konvensional yang bergerak di bidang keuangan syariah. 

Menurut statistik yang dirilis oleh OJK pada Februari 2022, setidaknya terdapat 14 BUS dan 20 UUS. Dari jumlah tersebut tidak dapat dipungkiri bahwasanya Bank Syariah Indonesia (BSI) merupakan perusahaan perbankan syariah terbesar di Indonesia

BSI merupakan gabungan dari 3 lini syariah milik 3 bank BUMN lainnya yaitu BRI syariah Bank Syariah Mandiri dan BNI Syariah. Perusahaan ini secara resmi beroperasi pada 1 Februari 2021. Kode saham BSI masih merupakan BRIS karena menggunakan kode saham BRI syariah yang telah listing terlebih dahulu di bursa.

Dengan kapitalisasi pasar yang besar, BRIS termasuk saham berbasis syariah terbaik yang ada di BEI>

14 bulan sejak didirikan, kini saham BRIS dijual dengan harga 1.455 per lembar dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai 59,2 triliun. Meskipun demikian, banyak pihak yang memperkirakan kalau potensi BRIS sangat besar. Selain karena faktor jumlah penduduk muslim, BRIS juga disokong dengan permodalan dari pemerintah sehingga relatif lebih memiliki akses permodalan untuk bisa berinovasi lebih lanjut. 

5. Bank Tabungan Negara (BBTN)

Saham bank BUMN yang terakhir adalah saham milik Bank Tabungan Negara atau BTN. Saham perusahaan yang didirikan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda ini mulai dijual di bursa pada tahun 2009 dan per Juni 2022, saham BBTN dijual dengan harga 1.625 per lembar dengan nilai market capitalization mencapai 17,4 triliun rupiah. 

Sedikit berbeda dengan perusahaan keuangan lainnya di atas, BTN adalah perusahaan yang lebih berfokus pada layanan kredit perumahan mulai dari kredit tanah, rumah hingga apartemen. Visi perusahaan ini adalah menjadi mortgage bank terbaik di Asia Tenggara pada tahun 2025. 

Menurut data dari Yahoo Finance, BTN kini memiliki 10.606 karyawan, 6 kantor wilayah; 108 kantor cabang yang mana 29 diantaranya merupakan kantor cabang unit BTN Syariah; 604 kantor cabang pembantu dengan  61 kantor cabang pembantu syariah yang tersebar di seluruh Indonesia.  

Secara garis besar, industri perbankan di Indonesia memiliki potensi besar untuk tumbuh dan berkembang. Hal ini khususnya pada sektor perbankan syariah dan digital yang baru memiliki penetrasi industri masing-masing 6,51% dan 39,2%. Ini artinya masih banyak di antara 270 juta penduduk Indonesia yang belum tersentuh layanan perbankan syariah dan digital. Belum lagi fakta bahwa generasi muda Indonesia saat ini sedang getol berinvestasi sehingga tentunya menjadi peluang bisnis tersendiri bagi perusahaan sekuritas BUMN.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.